Agus Yuniarto: TPA Kian Penuh, Warga Karawang Perlu Pilah Sampah Mandiri
TPA mulai kelebihan beban, DLHK Karawang mengajak warga memilah sampah rumah tangga demi menekan penumpukan.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, KARAWANG — Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di sejumlah daerah mulai menghadapi kelebihan beban seiring meningkatnya volume sampah rumah tangga. Kondisi itu mendorong Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Karawang mengajak warga mulai memilah sampah sejak dari tingkat rumah tangga.
Penata Kelola Penyehatan Lingkungan Ahli Muda DLHK Kabupaten Karawang, Agus Yuniarto, mengatakan pemilahan sampah dari sumber menjadi langkah paling realistis untuk mengurangi tekanan terhadap TPA yang kapasitasnya terus menipis.
“Dengan memilah sampah, masyarakat turut berkontribusi membantu pemerintah mengurangi sampah yang lari ke TPA,” ujar Agus dalam kegiatan edukasi pengelolaan sampah di Desa Warung Bambu, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (7/5/2026).
Sampah Rumah Tangga Dominasi Timbulan
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), lebih dari 50 persen timbulan sampah nasional pada 2025 diperkirakan berasal dari sektor rumah tangga.
Besarnya volume sampah tersebut berdampak langsung pada kapasitas TPA yang mulai mengalami overload atau kelebihan beban.
Sampah yang tercampur antara limbah organik dan material daur ulang juga dinilai mempercepat penumpukan. Material yang sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi menjadi sulit diproses kembali karena terkontaminasi sampah basah dan residu rumah tangga.
Jika tidak dikurangi sejak dari sumbernya, volume sampah dikhawatirkan terus mempercepat penuhnya kapasitas TPA di berbagai daerah.
Baca juga: Kementrans Kirim Tim ke Tiongkok untuk Belajar Hapus Kemiskinan Ekstrem
Pemilahan Dinilai Jadi Langkah Penting
DLHK Karawang menilai pemilahan sampah sejak awal menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.
Melalui edukasi yang menyasar kelompok ibu rumah tangga di Desa Warung Bambu, warga diajak membiasakan pemisahan sampah sesuai jenisnya sebelum dibuang.
Kelompok ibu rumah tangga dipilih karena dinilai memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan pengelolaan sampah di lingkungan keluarga.
Warga juga diedukasi menerapkan langkah sederhana sebelum membuang sampah, mulai dari mengosongkan dan melipat kemasan agar lebih ringkas, menjaga sampah tetap bersih dan kering, hingga memisahkan sampah organik, nonorganik, dan plastik.
Dengan pemilahan tersebut, proses pengolahan lanjutan dan daur ulang dinilai menjadi lebih optimal.
Target Kurangi Sampah 30 Persen
Program edukasi pemilahan sampah itu juga dikaitkan dengan target nasional pengurangan sampah sebesar 30 persen pada 2029.
Selain edukasi, fasilitas tempat pembuangan terpilah atau drop box mulai disiapkan untuk membantu warga membiasakan pemilahan sampah di lingkungan permukiman.
Agus menilai persoalan sampah tidak dapat ditangani pemerintah semata karena peningkatan volume sampah juga dipengaruhi kebiasaan pembuangan di tingkat rumah tangga.
Menurut dia, perubahan perilaku memilah sampah perlu dimulai dari lingkungan keluarga agar beban TPA tidak terus bertambah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Agus-Yuniarto-Penata-Kelola-Penyehatan-Lingkungan-Ahli-Muda-DLHK-Karawang-sampah.jpg)