Jumat, 15 Mei 2026

Dudung Sebut Lulusan Sekolah Garuda Bisa Kuliah di Oxford hingga Universitas Berkeley

Pemerintah tengah mempercepat proyek mercusuar pemerintah di bidang pendidikan yakni SMA Garuda Transformasi.

Tayang:
Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Hasanudin Aco
Dok. KSP
SEKOLAH GARUDA – Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman mengatakan pemerintah mempercepat proyek pemerintah di bidang pendidikan yakni SMA Garuda Transformasi dan SMA Garuda Baru.  
Ringkasan Berita:
  • Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menyebut lulusan Sekolah Garuda berpeluang melanjutkan studi ke kampus elite dunia seperti University of Oxford, University College London, University of California, Berkeley, dan University of Chicago.
  • Program SMA Garuda menjadi bagian proyek prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk pemerataan pendidikan berstandar internasional.
  • Pemerintah mencatat 6.738 pendaftar dari 34 provinsi dengan mayoritas peserta berasal dari luar Pulau Jawa.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pemerintah tengah mempercepat proyek mercusuar pemerintah di bidang pendidikan yakni SMA Garuda Transformasi dan SMA Garuda Baru. 

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman dan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Stella Christie, pun melakukan pertemuan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (13/6/2026) kemarin.

Proyek ini bukan sekadar pembangunan gedung sekolah biasa, melainkan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PTHC) Presiden Prabowo Subianto untuk menciptakan pemerataan kualitas pendidikan berstandar internasional hingga ke pelosok Nusantara.

“Ini merupakan bagian dari agenda besar Bapak Presiden Republik Indonesia untuk mencetak talenta unggul Indonesia berstandar global," ujar Dudung di Istana Negara, Kamis (14/6/2026).

Dijelaskan Dudung, KSP merupakan lembaga yang mengawal isu-isu pemerintah, karenanya berperan dalam mengatasi kendala di lapangan, mulai dari koordinasi lintas kementerian hingga urusan kewilayahan. 

Dudung menyebutkan bahwa antusiasme publik sangat masif, terlihat dari total 6.738 pendaftar yang datang dari 34 provinsi.

 Hal ini membuktikan bahwa siswa di luar Pulau Jawa memiliki haus prestasi yang luar biasa jika diberi wadah yang tepat.

Keberhasilan kurikulum dan model pendidikan Sekolah Garuda bukan tanpa bukti.

Dudung memaparkan bahwa lulusan dari program transformasi sebelumnya telah berhasil menduduki kursi di berbagai universitas elite dunia.

“Beberapa perguruan tinggi yang perlu saya sampaikan salah satunya ada di yang sekarang sudah masuk mereka di Oxford, kemudian di UCL (University College London), kemudian di Berkeley dan University of Chicago," kata Dudung.

Di sisi lain, Wamendikti Saintek Stella Christie memberikan apresiasi atas peran KSP yang mengawal proyek ini sejak berbentuk draf di atas kertas hingga eksekusi nyata.

“Tanpa KSP kita tidak bisa membangun Sekolah Garuda. Jadi KSP sangat dari awal sekali dari bahkan pembentukan Peraturan Presiden (Perpres) sampai hal-hal yang sifatnya dadakan, tidak terduga, tapi harus diselesaikan," ungkap Stella.

Stella menegaskan bahwa keberlangsungan Sekolah Garuda tidak perlu dikhawatirkan karena dukungan finansial telah diamankan melalui skema dana abadi oleh Kementerian Keuangan dan LPDP.

“Sekolah Garuda mempunyai dana abadi, artinya investasi negara dari Bapak Presiden yang dibuat sekarang untuk Sekolah Garuda ini akan berlangsung selamanya," jelasnya.

Menariknya, sebaran lokasi sekolah ini sengaja menyasar wilayah di luar pusat pertumbuhan ekonomi tradisional, seperti di Belitung, Soe (NTT), Tanjung Selor (Kalimantan Utara), hingga Sulawesi Tenggara. 

Dari 320 peserta yang lolos tahap seleksi keempat, mayoritas justru berasal dari daerah seperti Sumatera Utara dan NTT, dengan profil siswa yang berada di kelompok ekonomi desil 4 namun memiliki rata-rata nilai akademik 88.

Stella menganalogikan komitmen tinggi pemerintah dalam membangun fasilitas pendidikan ini dengan keseriusan negara pada bidang olahraga.

“Kita tidak pernah ragu untuk membangun stadion yang paling bagus untuk calon timnas sepak bola kita. Dan di pendidikan kita belum pernah. Inilah jawaban Bapak Presiden," tukas Stella.

Target jangka panjang dari proyek ini pun sangat ambisius.

Menurutnya, pemerintah tidak hanya ingin mencetak pekerja profesional, tetapi figur pemimpin pemikiran (thought leader) yang mampu bersaing di panggung tertinggi dunia.

“Kita juga akan mendapatkan bukan saja medali emas di bulu tangkis, tapi peraih Nobel suatu saat dari Indonesia," pungkasnya.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved