Jumat, 15 Mei 2026

Menguak Operasi Informasi di Balik Demo Agustus 2025, Bagaimana Narasi 'Didalangi Asing' Menyebar?

Serangan disinformasi menyasar media dan organisasi sipil selama gelombang demonstrasi di Indonesia sejak 25 Agustus hingga awal September 2025.

Tayang:
Tribunnews/Jeprima
DEMONSTRASI - Sejumlah Aparat Kepolisian dan Massa aksi yang menyuarakan protes atas kenaikan tunjangan dan gaji Anggota DPR RI di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, 25 Agustus 2025. Di balik gelombang protes yang berakar pada masalah ekonomi dan sosial, muncul tuduhan bahwa aksi massa tersebut didalangi oleh aktor asing. 

Ringkasan Berita:
  • Di balik gelombang protes yang berakar pada masalah ekonomi dan sosial, muncul tuduhan bahwa aksi massa tersebut didalangi oleh aktor asing. 
  • Nama George Soros, NED, USAID, hingga CIA berulang kali disebut sebagai “dalang” yang menggerakkan ribuan orang turun ke jalan.
  • Nama-nama tadi muncul di berbagai unggahan X, Tiktok, hingga Youtube, dengan narasi aksi massa itu bukan lagi murni gerakan rakyat, melainkan operasi asing yang dirancang untuk mengguncang pemerintahan.

(*) Tulisan ini merupakan hasil liputan khusus yang dikerjakan tim Tribunnews.com bersama sejumlah media

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia pada akhir Agustus 2025 diguncang aksi demonstrasi besar, bermula dari kemarahan publik atas dua hal yang dianggap melukai rasa keadilan masyarakat.

Pertama, soal kenaikan tunjangan anggota DPR. Kedua, kematian seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan yang diduga terlindas kendaraan aparat kepolisian saat aksi berlangsung.

Dalam hitungan hari, gelombang protes meluas ke lebih dari 112 daerah. Ribuan mahasiswa, buruh, komunitas sipil, hingga warga biasa turun ke jalan membawa beragam tuntutan, mulai dari evaluasi pemerintahan, bahkan hingga seruan pembubaran DPR.

Namun, ketika demonstrasi terus membesar, ruang publik Indonesia ternyata tidak hanya dipenuhi perdebatan soal tuntutan aksi. 

Medan pertarungan lain segera muncul di media sosial dan media massa: pertarungan narasi mengenai siapa sesungguhnya dalang di balik demonstrasi tersebut. 

Di balik gelombang protes yang berakar pada masalah ekonomi dan sosial, muncul tuduhan bahwa aksi massa tersebut didalangi oleh aktor asing.

Nama George Soros, NED, USAID, hingga CIA berulang kali disebut sebagai “dalang” yang menggerakkan ribuan orang turun ke jalan.

Nama-nama tadi muncul di berbagai unggahan X, Tiktok, hingga Youtube, dengan narasi aksi massa itu bukan lagi murni gerakan rakyat, melainkan operasi asing yang dirancang untuk mengguncang pemerintahan.

narasi asing dfg
Di balik gelombang protes yang berakar pada masalah ekonomi dan sosial, muncul tuduhan bahwa aksi massa tersebut didalangi oleh aktor asing.

Berbagai unggahan menyebut demonstrasi Indonesia sebagai bagian dari “color revolution” atau revolusi warna—istilah yang selama dua dekade identik dengan teori konspirasi geopolitik Rusia dan China tentang campur tangan Barat dalam gerakan pro-demokrasi di berbagai negara.

Narasi tersebut berkembang sangat cepat. Dalam waktu singkat, isu yang awalnya hanya beredar di akun-akun luar negeri berubah menjadi diskursus nasional. 

Media independen seperti Tempo, Project Multatuli, Konde, hingga Remotivi dituding sebagai alat kepentingan asing.

Organisasi bantuan hukum dan NGO seperti YLBHI, LBH Jakarta, KontraS, Lokataru, hingga Kurawal Foundation juga ikut diserang sebagai “LSM peliharaan Soros”.

Bagaimana Narasi itu menyebar?

Laporan analisis Foreign Information Manipulation and Interference (FIMI) menunjukkan pola penyebaran narasi itu bukan terjadi secara acak. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved