Mangrove dan Padang Lamun Dinilai Mampu Serap Karbon 10 Kali Lebih Efektif Dibanding Hutan Daratan
Ekosistem mangrove dan padang lamun disebut mampu menyerap karbon hingga 10 kali lebih efektif dibanding hutan daratan.
Ringkasan Berita:
- Ekosistem mangrove dan padang lamun disebut mampu menyerap karbon hingga 10 kali lebih efektif dibanding hutan daratan sehingga dinilai penting mendukung target NZE Indonesia 2060.
- Perubahan iklim meningkatkan ancaman abrasi, kenaikan muka laut, dan cuaca ekstrem.
- Rehabilitasi mangrove dan solusi berbasis alam dinilai tidak hanya membantu mitigasi perubahan iklim, tetapi juga membuka peluang ekonomi masyarakat pesisir melalui blue economy dan ekowisata.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Upaya dekarbonisasi dan transisi energi berkelanjutan terus dijalankan di berbagai daerah dalam mengejar target Net Zero Emission (NZE) Indonesia tahun 2060.
Misalnya di kawasan pesisir, ekosistem mangrove dan padang lamun yang terjaga baik, memiliki kemampuan menyerap karbon hingga sepuluh kali lebih efektif dibandingkan hutan daratan.
Melihat hal itu, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) melakukan kegiatan HSSE Talk #4 bertema “ Nature-Based Solutions for Decarbonization: Unlocking the Power of Blue Carbon Ecosystems” dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026.
Vice President Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3KL) PLN EPI, Muhammad Aminuddin, mengatakan, perseroan memiliki tanggung jawab tidak hanya menjaga ketahanan pasokan energi, tetapi juga memastikan operasional bisnis berjalan selaras dengan keberlanjutan lingkungan, khususnya di kawasan pesisir yang menjadi lokasi strategis berbagai fasilitas energi perusahaan.
“Kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga ekosistem pesisir yang menjadi rumah bagi mangrove dan padang lamun sebagai penyerap karbon alami atau blue carbon” ujar Aminuddin dikutip Senin (25/5/2026).
PLN EPI juga menyoroti bahwa perubahan iklim telah meningkatkan risiko kenaikan muka air laut, abrasi, hingga cuaca ekstrem yang berdampak langsung terhadap masyarakat pesisir Indonesia.
Data yang dipaparkan CarbonEthics menunjukkan Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektare kawasan mangrove yang mampu menyimpan hingga 3,1 miliar ton CO2, namun sekitar 40 persen kawasan mangrove mengalami degradasi dalam tiga dekade terakhir.
Aminuddin menambahkan, pengembangan bisnis energi ke depan harus dijalankan dengan pendekatan yang lebih bertanggung jawab dan berorientasi pada keberlanjutan.
Menurutnya, meningkatnya tuntutan regulasi, ekspektasi investor, serta berkembangnya pasar karbon domestik menjadi momentum bagi PLN EPI untuk memperkuat strategi bisnis yang nature-positive.
“Keberlanjutan bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi bagian penting dalam membangun bisnis energi masa depan yang resilien dan bernilai tambah,” tambah Aminuddin.
Senior Business Development Manager CarbonEthics, Farhan Prastiyan, menjelaskan, solusi berbasis alam memiliki potensi besar dalam mendukung mitigasi perubahan iklim sekaligus menciptakan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat pesisir.
Menurut Farhan, rehabilitasi mangrove, konservasi lahan gambut, hingga pengelolaan pesisir berkelanjutan tidak hanya mampu meningkatkan kapasitas penyerapan karbon, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru berbasis blue economy dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Selain aspek lingkungan, pendekatan Nature-Based Solutions juga dinilai mampu memberikan dampak sosial yang signifikan.
Baca juga: Inovasi di Cilacap, Pembibitan Mangrove Gunakan Teknologi Digital dan Sistem Otomatis
"Menjaga pesisir hari ini bukan hanya tentang melindungi alam, tetapi juga memastikan keberlanjutan energi dan kehidupan generasi masa depan," paparnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-kawasan-mangrove-1.jpg)