Program Makan Bergizi Gratis
BGN Rombak Target MBG 2026, Nanik Deyang: Kami Perbaiki Kualitas, Bukan Kejar Angka 82 Juta Penerima
BGN kini resmi mengevaluasi target capaian penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk tahun 2026.
Ringkasan Berita:
- BGN mengevaluasi target program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2026.
- Kepala BGN, Nanik S Deyang, menegaskan fokus kini pada kualitas gizi dan standar kesehatan dapur, bukan sekadar mengejar target 82 juta penerima.
- Keputusan ini diambil setelah pertemuan dengan Presiden Prabowo, sebagai langkah efisiensi anggaran dan penajaman sasaran.
- BGN akan refocusing, mengalihkan anggaran dari sekolah mahal ke masyarakat di daerah 3T dan 3B agar lebih tepat sasaran.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) resmi mengevaluasi target capaian penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk tahun 2026.
Kepala BGN, Nanik S Deyang, menegaskan instansinya kini memprioritaskan kualitas gizi dan standar kesehatan dapur dibandingkan sekadar mengejar target kuantitas 82 juta penerima.
Keputusan ini diambil setelah jajaran pimpinan baru BGN melakukan pertemuan langsung dengan Presiden Prabowo Subianto. Langkah itu juga menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya efisiensi anggaran dan penajaman sasaran penerima manfaat di lapangan.
"Dampaknya ya, kemarin kami bertiga dipanggil Presiden dan kami sudah menyampaikan ke beliau tahun 2026 ini mohon Bapak kami tidak mengejar kuantitas. Kami akan perbaiki kualitas, sehingga bisa jadi kami tidak akan mengejar ke 82 juta. Tapi bagaimana dapur-dapur ini sehat, memberikan makan yang bergizi, ya. Lalu refocusing," ujar Nanik di Kantor BGN, Jakarta Pusat, pada Kamis (4/6/2026).
Sebagai bentuk penataan ulang sasaran, kata Nanik, BGN akan mengevaluasi pemberian MBG di sekolah-sekolah yang tergolong mahal. Anggaran dari hasil efisiensi tersebut nantinya akan dialihkan untuk masyarakat yang berada di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
"Nah, sekarang kita fokuskan kan sekarang kan semua sekolah dikasih. Nah, sekarang kita fokuskan adalah ke 3T dan terutama untuk 3B," tegasnya.
Kelompok 3B yang dimaksud meliputi ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita. Kebijakan ini diambil berdasarkan rekomendasi pakar gizi dan dokter anak, di mana intervensi gizi dinilai paling krusial dan efektif jika dilakukan sejak bulan pertama kandungan hingga anak berusia 9 tahun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kepala-Badan-Gizi-Nasional-BGN-Nanik-S-Deyang-3210.jpg)