Rabu, 10 Juni 2026

Harga BBM Naik

4 Penyebab Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 Menurut MAKPI

Firre An Suprapto memberikan analisis penyebab pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax pada Rabu (10/6/2026).

Tayang:
Editor: Nuryanti
Surya/Purwanto
HARGA PERTAMAX NAIK - Pengendara motor antre mengisi BBM di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) Jalan Langsep, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (10/6/2026). Pengamat memberikan analisis penyebab pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax sampai 32 persen. 

Ringkasan Berita:
  • MAKPI menyebut kenaikan harga minyak dunia memicu lonjakan harga Pertamax.
  • Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor energi dan pengadaan BBM.
  • Penyesuaian harga dinilai akibat beban fiskal dan regulasi energi.

 

TRIBUNNEWS.COM - Pengamat kebijakan publik dari Masyarakat Kebijakan Publik Indonesia (MAKPI), Dr. Firre An Suprapto, S.AP. memberikan analisis penyebab pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax pada Rabu (10/6/2026).

Pertamax (RON 92) naik Rp3.950, dari sebelumnya Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.

Sementara Pertamax Green 95 naik Rp4.100, dari sebelumnya Rp12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

Kenaikan kedua jenis BBM ini mencapai sekitar 32 persen.

Menurut Firre, setidaknya ada empat poin penyebab BBM Pertamax naik.

1. Kenaikan Harga Minyak Dunia

Firre mengungkapkan, harga minyak mentah dunia sebesar USD 90 per barel pada pertengahan 2026 menjadi pemicu utama kenaikan.

Berdasarkan referensi harga Mean of Platts Singapore (MOPS) pada April 2026, harga keekonomian Pertamax diperkirakan sudah mencapai Rp 17.850 per liter (jauh di atas harga jual resmi Rp12.300). 

"Keterlambatan penyesuaian ini menciptakan selisih (gap) harga yang signifikan dan menimbulkan beban kompensasi bagi Pertamina dan APBN," ungkap Firre kepada Tribunnews.com, Rabu (10/6/2026).

BERI PANDANGAN - Pengamat kebijakan publik dari Masyarakat Kebijakan Publik Indonesia (MAKPI) sekaligus Dosen Fisipol Universitas Negeri Surabaya, Dr. Firre An Suprapto, S.AP.
BERI PANDANGAN - Pengamat kebijakan publik dari Masyarakat Kebijakan Publik Indonesia (MAKPI) sekaligus Dosen Fisipol Universitas Negeri Surabaya, Dr. Firre An Suprapto, S.AP. (Tribunnews.com/IST)

Baca juga: Pertamax Naik saat Potongan Aplikator 8 Persen Belum Dinikmati Ojol, Pengamat: Bisa Picu Kemarahan

Dosen Fisipol Universitas Negeri Surabaya itu menambahkan, konflik geopolitik yang berkepanjangan di Timur Tengah turut memberikan tekanan pada pasokan global.

Hal ini mendorong harga minyak mentah tetap tinggi dan tidak menentu.

"Kondisi ini sepenuhnya berada di luar kendali kebijakan domestik Indonesia," sambungnya.

2. Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Firre mengingatkan, BBM dan minyak mentah diperdagangkan dalam dolar AS.

"Sehingga, pelemahan rupiah meningkatkan biaya pengadaan energi," ungkapnya.

Ia juga menyebut sejumlah pihak menilai kenaikan Pertamax terjadi di tengah tekanan kurs rupiah terhadap dolar AS, meski Pertamina menyebut penyesuaian dilakukan untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi.

3. Dilema Penahanan Harga dan Beban Fiskal

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved