Harga BBM Naik
Pengakuan Driver Ojol hingga Kurir Beralih ke Pertalite Imbas Pertamax Naik, Terpaksa Antre Panjang
Kini sejumlah warga memilih menggunakan BBM bersubsidi seperti Pertalite imbas kenaikan harga Pertamax.
"Daripada untuk beli Pertamax, sekarang mendingan beli Pertalite. Mulai hari ini, ya kalau nanti Pertamax turun lagi (harganya), beli Pertamax lagi," jelasnya.
Kurir Antre Panjang Beli Pertalite
Antrean jalur pengisian Pertalite di SPBU Pertamina di Jalan Gajah Mada Medan, Sumatra Utara, juga mengular setelah harga Pertamax naik, Rabu.
Kendaraan roda empat baik kendaraan pribadi dengan kelas mobil kategori mewah maupun angkutan umum terlihat berhenti dan ikut mengantre di antrean jalur pengisian Pertalite.
Sementara untuk kendaraan roda dua mulai dari ibu rumah tangga, kurir, driver ojek online, hingga Pegawai Negeri Sipil juga ikut mengantre.
Seorang kurir bernama Hendri Siahaan menyebut kenaikan harga Pertamax juga berdampak untuknya.
"Gimana ya, harga minyak naik, tapi gaji enggak naik. Sementara saya setiap hari jadi kurir yang harus keliling-keliling untuk antar paket."
"Biasanya saya pakai Pertamax, karena motor saya ini lebih enak tarikannya kalau pakai Pertamax. Tapi kalau sudah segitu harganya, ya mending Pertalite," ungkapnya, Rabu, dikutip dari Tribun-Medan.com.
Hendri pun mengaku takut jika harga BBM Pertamax ataupun Pertalite kembali naik.
"Takutnya besok naiknya dadakan. Jadi isi full lah. Biasannya Rp25 ribu udah full meluber. Ini Rp30 ribu baru full. Mudah-mudahan segera turun lagi lah harga minyak ini," jelasnya.
Baca juga: Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Warga Jakarta Diyakini Beralih ke Transportasi Umum, Lebih Ekonomis
Kuota Pertalite Terancam Jebol
Anggota Komisi XII DPR RI, Meitri Citra Wardani, mengingatkan pemerintah dan PT Pertamina (Persero) agar mengantisipasi dampak lanjutan dari kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang per 10 Juni 2026 resmi naik menjadi Rp16.250 per liter.
Menurut Meitri, kenaikan harga Pertamax berpotensi memicu pergeseran konsumsi masyarakat ke BBM bersubsidi seperti Pertalite.
Jika perpindahan tersebut terjadi secara besar-besaran, pemerintah dikhawatirkan menghadapi tekanan tambahan terhadap kuota subsidi energi yang telah ditetapkan.
"Kami memahami bahwa penyesuaian harga Pertamax dilakukan mengikuti dinamika harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Namun pemerintah tidak boleh berhenti pada aspek penetapan harga semata," kata Meitri kepada wartawan, Rabu.
Menurut dia, yang perlu diantisipasi justru efek berantai dari kebijakan tersebut.
"Yang harus diantisipasi adalah efek berantainya, yaitu potensi migrasi pengguna Pertamax ke BBM subsidi yang dapat meningkatkan tekanan terhadap kuota subsidi energi," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Suasana-SPBU-Langsep-Kota-Malang-Saat-Pertamax-Naik_20260610_131515.jpg)