Kamis, 11 Juni 2026

Bahlil Meradang soal Polemik Doktor UI, Tes Dua Kali hingga Tantang Pembuktian Penuduh

Bahlil buka-bukaan soal polemik doktor UI, dari tes masuk dua kali hingga dugaan perlakuan berbeda terhadap anak daerah.

Tayang:
Youtube/Prof. Rhenald Kasali
BAHLIL BLAK_BLAKAN - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akhirnya buka suara terkait polemik gelar doktor yang diperolehnya dari Universitas Indonesia (UI) saat podcast bersama Prof. Rhenald Kasali. 

Bantahan serupa juga disampaikan terkait keberatan dari JATAM mengenai penggunaan data dalam disertasinya.

Bahlil menjelaskan data yang dipersoalkan hanya digunakan pada tahap tertentu dan telah dikeluarkan dari naskah akhir disertasi yang hampir mencapai 500 halaman.

Ia bahkan mengaku pernah meminta kampus memfasilitasi debat terbuka dengan akademisi yang meragukan kualitas maupun orisinalitas disertasinya.

Sorotan lain yang disampaikan Bahlil berkaitan dengan proses penyelesaian kewajiban akademik pasca keluarnya keputusan rektor.

Ia mengaku telah menjalankan seluruh syarat yang diminta, termasuk revisi disertasi dan penyusunan jurnal ilmiah.

Namun setelah syarat jurnal berstatus submitted dipenuhi, muncul permintaan baru agar jurnal tersebut berstatus accepted.

Perubahan itu dinilai menimbulkan tanda tanya karena tidak tercantum dalam ketentuan awal yang diterimanya.

Bahlil juga mengaku sempat memperoleh informasi bahwa seluruh dokumen akademiknya telah lengkap dan nilai siap diterbitkan.

Meski demikian, proses tersebut kembali tertunda dengan alasan harus menunggu pembahasan empat organ universitas.

Situasi itulah yang membuatnya mempertanyakan konsistensi penerapan aturan dalam kasus yang menjerat dirinya.

Bahlil Singgung Perlakuan terhadap Anak Daerah dan Indonesia Timur

Pada bagian akhir wawancara, Bahlil melontarkan pernyataan yang cukup emosional.

Ia mengaku kerap bertanya dalam hati mengapa polemik yang dialaminya berkembang sedemikian besar.

Refleksi itu kemudian dikaitkan dengan latar belakangnya sebagai putra daerah dari Indonesia Timur.

Bahlil mempertanyakan apakah anak-anak daerah yang menempuh pendidikan di luar kampus-kampus besar dianggap tidak layak mencapai jenjang akademik tertinggi di UI.

Ia mengungkapkan perjalanan akademiknya dimulai dari perguruan tinggi di daerah sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Sesuai Minatmu
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved