Harga BBM Naik
Ramai-ramai 'Turun Kelas' ke Pertalite setelah Harga Pertamax Naik Drastis
Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax langsung berdampak pada masyarakat, termasuk pengemudi ojek online (ojol).
Kini, untuk penggunaan yang sama, biaya yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp70 ribu.
"Dulu biasa isi Rp50 ribu sehari. Sekarang kalau pakai Pertamax bisa Rp70 ribuan. Ya, lumayan hampir Rp20 ribu, bisa buat makan itu," papar dia.
Kurir hingga Karyawan Swasta Juga Beralih
Selain driver online, pilihan beralih ke Pertalite juga diambil karyawati swasta di Jakarta.
Ratna (26), mengaku keberatan dengan harga Pertamax saat ini.
"Menurut saya naiknya ini cukup tinggi ya perbedaannya dari sebelumnya, jadi agak berat juga ya," ujarnya saat ditemui Tribunnews di SPBU Pertamina Jalan Ampera Raya, Rabu.
"Daripada untuk beli Pertamax, sekarang mendingan beli Pertalite. Mulai hari ini, ya kalau nanti Pertamax turun lagi (harganya), beli Pertamax lagi," jelasnya.
Di Medan, Sumatra Utara, antrean jalur pengisian Pertalite di SPBU Pertamina di Jalan Gajah Mada Medan juga mengular setelah harga Pertamax naik, Rabu.
Seorang kurir bernama Hendri Siahaan menyebut kenaikan harga Pertamax juga berdampak untuknya.
"Gimana ya, harga minyak naik, tapi gaji enggak naik. Sementara saya setiap hari jadi kurir yang harus keliling-keliling untuk antar paket."
"Biasanya saya pakai Pertamax, karena motor saya ini lebih enak tarikannya kalau pakai Pertamax. Tapi kalau sudah segitu harganya, ya mending Pertalite," ungkapnya, Rabu, dikutip dari Tribun-Medan.com.
Hendri pun mengaku takut jika harga BBM Pertamax ataupun Pertalite kembali naik.
"Takutnya besok naiknya dadakan. Jadi isi full lah. Biasannya Rp25 ribu udah full meluber. Ini Rp30 ribu baru full. Mudah-mudahan segera turun lagi lah harga minyak ini," jelasnya.
Tanggapan Pengamat
Sementara itu Dosen Fisipol Universitas Negeri Surabaya sekaligus pengamat kebijakan publik dari Masyarakat Kebijakan Publik Indonesia (MAKPI), Dr. Firre An Suprapto, S.AP., mengungkapkan kenaikan ini tidak terlepas oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang menyentuh USD 90 per barel hingga pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Keputusan kenaikan harga ini merupakan koreksi yang tidak terelakkan setelah akumulasi tekanan fiskal mencapai titik kritis," ujar Firre kepada Tribunnews.com, Rabu (10/6/2026).
Namun, lonjakan tajam dalam waktu singkat ini dipastikan membawa efek domino yang luas bagi perekonomian nasional terutama migrasi massal konsumen ke Pertalite.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Warga-Terpaksa-Beli-Pertamax-di-SPBU-Surabaya_20260610_205229.jpg)