Program Indonesia-UEA Tetapkan Surabaya Jadi Percontohan Nasional Pencegahan Sampah Plastik ke Laut
Surabaya menjadi kota pertama di Indonesia yang menjalankan program "Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution".
Pada kesempatan yang sama, Koordinator Pokja Perubahan Perilaku Masyarakat Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Sri Murwani Nurfadilastuti menegaskan perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi pencemaran sampah.
"Nah, salah satunya adalah untuk mendorong masyarakat bisa membatasi sampah dan juga memilah sampah dari sumbernya," ujarnya.
Karena itu, Sri Murwani menyatakan bahwa pemerintah terus mendorong masyarakat untuk mengurangi timbulan sampah dan melakukan pemilahan sejak dari sumbernya. Langkah tersebut dinilai penting agar sampah dapat dimanfaatkan kembali dan tidak berakhir di sungai maupun lingkungan terbuka.
"Sehingga ketika sudah dipilah, dan ketika sampah itu sudah dimanfaatkan ini hanya dua hal. Yakni dia tidak akan lagi dibuang ke tempat-tempat seperti Kali Tebu dan lainnya, tetapi juga dapat memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat," kata dia.
Menurut dia, sampah anorganik maupun organik memiliki peluang untuk dikelola, sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi beban lingkungan.
"Kami mengapresiasi dan kami terus mendorong upaya-upaya untuk melakukan pengelolaan sampah," imbuhnya.
Senada dengan itu, Koordinator Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Ahmad Bahri Rambe mengatakan, program tersebut dirancang secara komprehensif karena tidak hanya berfokus pada pengangkatan sampah, tetapi juga mencakup pengelolaan dan edukasi kepada masyarakat.
"Jadi program ini bukan hanya mengambil sampah yang plastik saja, tapi juga sampah organik. Nanti sampah-sampah ini akan dikelola, di-recycle dan yang bernilai nanti akan dimanfaatkan," ujar Bahri.
Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem pengelolaan sampah sungai yang berkelanjutan sehingga manfaat program dapat dirasakan dalam jangka panjang.
"Jadi programnya cukup komprehensif. Bagaimana mengambil sampah sungai tapi juga melakukan edukasi ke masyarakat, sehingga nanti program ini bisa berjalan dengan baik dan berkesinambungan," katanya.
Sementara itu, Staf Asisten Deputi Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Ahmad Didin menjelaskan, program tersebut merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah UEA, dengan UNDP Indonesia sebagai pelaksana program.
"Project ini merupakan hasil kerja sama pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan Pemerintah UEA. Kemudian dari kami menunjuk UNDP Indonesia, sebagai implementing agency-nya," ujarnya.
Didin mengungkapkan program tersebut dijalankan secara nasional di lima lokasi, yakni Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, Solo, dan Bali. Namun, Surabaya menjadi kota pertama yang dipilih untuk peluncuran program sekaligus implementasi awal.
"Project ini sudah berjalan di Kota Surabaya, dan harapannya nanti Surabaya menjadi kota percontohan di antara lima tadi. Sehingga semua (daerah) bisa meniru apa yang sudah dilakukan Surabaya jika program ini sudah berhasil," pungkas Didin. (ADV)
Baca juga: Menuju Kota Bebas Banjir, Pemkot Surabaya Tambah Tiga Rumah Pompa Baru
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pemkot-Surabaya-gelar-Gerakan-Pembersihan.jpg)