Tempati Peringkat Ketujuh Adopsi Aset Kripto, Indonesia Perkuat Sistem Kepatuhan dan Pengawasan
Jumlah investor aset kripto di Indonesia telah mencapai 21,7 juta orang berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan/OJK per Juni 2026.
Ringkasan Berita:
- Indonesia menempati peringkat ketujuh dunia dalam adopsi kripto dengan 21,7 juta investor dan pertumbuhan transaksi 103 persen.
- Industri kripto memperkuat sistem keamanan, kepatuhan, dan pengawasan risiko berbasis analisis blockchain.
- Teknologi AI dan pemantauan real-time digunakan untuk mendeteksi aktivitas berisiko serta melindungi pengguna.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Berdasarkan Chainalysis Global Crypto Adoption Index 2025, Indonesia menempati peringkat ketujuh dunia dalam tingkat adopsi aset kripto.
Indonesia juga menjadi pasar aset kripto terbesar keempat di Asia berdasarkan nilai transaksi yang diterima, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 103 persen.
Adapun jumlah investor aset kripto di Indonesia telah mencapai 21,7 juta orang (berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan/OJK per Juni 2026).
Baca juga: Remaja Inggris Masuk Daftar Sanksi Rusia Setelah Ungkap Dugaan Jaringan Pencucian Uang Kripto
Melihat kondisi tersebut, industri kripto tanah air memperkuat sistem keamanan, kepatuhan, dan pengawasan risiko.
Salah satu dilakukan Indodax melalui kerja sama strategis dengan perusahaan analisis blockchain, Chainalysis.
CEO Indodax, William Sutanto, menegaskan penguatan infrastruktur kepatuhan menjadi bagian penting dalam membangun industri aset kripto yang lebih sehat dan berkelanjutan.
"Kepercayaan pengguna hanya dapat dijaga melalui transparansi, tata kelola yang baik, serta sistem pengawasan yang kuat," ujarnya dikutip dari Kontan, Kamis (11/6/2026).
Melalui implementasi solusi Crypto Compliance, Indodax memperkuat pemantauan transaksi blockchain secara real-time untuk mendeteksi, menganalisis, dan memitigasi potensi risiko lebih cepat dan akurat.
Kerja sama ini juga ditujukan untuk meningkatkan efektivitas pengawasan transaksi, memperkuat sistem kepatuhan, serta mendukung ekspansi operasional tanpa mengabaikan aspek manajemen risiko dan perlindungan pengguna.
Regional Director ASEAN Chainalysis, Diederik Van Wersch, menilai Indonesia merupakan salah satu pasar kripto dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara.
Karena itu, peningkatan aktivitas transaksi perlu diimbangi dengan sistem kepatuhan dan pemantauan risiko yang semakin canggih.
Ia menyampaikan, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dan analisis data blockchain memungkinkan identifikasi aktivitas berisiko secara real-time sehingga penanganannya dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Selain memperkuat pengawasan transaksi, kerja sama Indodax dan Chainalysis juga ditujukan untuk meningkatkan efisiensi proses kepatuhan, mempercepat investigasi internal, serta memperkuat kemampuan mitigasi terhadap aktivitas mencurigakan di jaringan blockchain.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi keamanan dan kepatuhan industri kripto Indonesia di tengah semakin ketatnya standar regulasi global.
Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul "Adopsi Kripto Melonjak, Industri Perkuat Sistem Kepatuhan dan Risiko"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-kripto-Bitcoin-OK.jpg)