BYD Incar Jual 4 Juta Mobil Listrik Plug-In di 2023

Di Agustus 2022, penjualan mobil listrik plug-in BYD naik 174.000 unit, yang merupakan rekor bulanan baru ke-14 dalam 15 bulan terakhir.

GridOto
Proses pengisian ulang baterai di mobil listrik BYD e6 taksi Bluebird. Tahun 2022 ini BYD akan melanjutkan produksi mobil listrik plug-in hingga 280.000 unit per bulan. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Mikael Dafit Adi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING – BYD Automobile menargetkan penjualan sebanyak 4.000.000 unit mobil listrik plug-in pada tahun 2023.

Presiden BYD Wang Chuanfu mengatakan BYD kini meningkatkan output produksi, karena backlog pesanan mencapai 700.000 unit.

Di Agustus 2022, penjualan mobil listrik plug-in BYD naik 174.000 unit, yang merupakan rekor bulanan baru ke-14 dalam 15 bulan terakhir.

Untuk tahun ini, BYD akan melanjutkan produksi mobil listrik plug-in hingga 280.000 unit per bulan.

Dikutip dari Inside EV, Kamis (8/9/2022) pasar mobil listrik plug-in China untuk saat ini diperkirakan akan berkembang menjadi 9 hingga 10 juta unit, sehingga BYD ingin mengambil bagian setidaknya 40 persen.

Itu merupakan rencana yang sangat ambisius, yang akan menempatkan BYD di antara grup otomotif terbesar di dunia.

Selama 2021, BYD sukses menjual 600.000 unit mobil listrik plug-in dalam waktu 12 bulan.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh tingginya permintaan untuk model yang sudah ada, serta banyak model baru yang baru saja memasuki pasar.

Baca juga: SUV Listrik BYD Atto 3 Siap Meluncur di Kuartal III

Di Agustus, BYD mengirimkan lebih dari 1.000 unit model BYD Seal yang semuanya baru.

Untuk tahun 2023, BYD kemungkinan akan memperkenalkan model premium baru, dengan berbagai fitur baru dan pada tahun 2024, perusahaan berencana untuk meluncurkan generasi kelima dari powertrain hybrid plug-in DM-i.

Baca juga: BYD Pasok Baterai Kendaraan Listrik ke Tesla, Diklaim Lebih Aman

BYD juga akanmemperluas penjualan mobilnya di Eropa. Namun untuk pasar AS, perusahaan merasa tidak senang karena Pemerintah AS tidak akan memberikan insentif untuk mobil yang diimpor dari China.

"RUU subsidi AS terbaru adalah diskriminatif dan mencerminkan kurangnya kepercayaan pemerintah AS,” kata Wang, seraya menambahkan bahwa jika AS tetap bersikeras pada kebijakan itu, BYD akan mempertimbangkan untuk meninggalkan pasar AS.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved