Selasa, 21 April 2026

Komunitas Otomotif: Penghapusan Insentif Perberat Pemulihan Pasar di 2026

Keputusan pemerintah tidak lagi memberikan insentif bagi sektor otomotif pada 2026 memunculkan berbagai respons dari komunitas pengguna mobil.

Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
HO/IST/dok. Seven
INSENTIF OTOMOTIF - Suasana pengunjung di pameran otomotif Gaikindo Jakarta Auto Week 2025 di ICE BSD Tangerang, 21-30 November 2025. Keputusan pemerintah tidak lagi memberikan insentif bagi sektor otomotif pada 2026 memunculkan berbagai respons dari komunitas pengguna mobil. 

Ringkasan Berita:
  • Insentif ke sektor otomotif seharusnya melihat kebutuhan tiap segmen secara spesifik.
  • Dukungan fiskal dari pemerintah harusnya menyasar kendaraan untuk kelas menengah ke bawah.

 

TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG - Keputusan pemerintah tidak lagi memberikan insentif bagi sektor otomotif pada 2026 memunculkan berbagai respons dari komunitas pengguna mobil.

Para penggiat otomotif menilai kebijakan ini berpotensi memperlambat pemulihan pasar yang selama setahun terakhir sudah tertekan oleh melemahnya daya beli masyarakat.

Founder Xpander Mitsubishi Owners Club (X-MOC) Sonny Eka Putra mengatakan, insentif ke sektor otomotif seharusnya melihat kebutuhan tiap segmen secara spesifik, bukan diberlakukan secara menyeluruh. Dukungan fiskal dari pemerintah harusnya menyasar kendaraan untuk kelas menengah ke bawah.

"Kalau saya ngelihatnya case by case. Ini sebetulnya juga berlaku untuk mobil listrik. Maksudnya insentif itu diperlukan untuk mobil kalangan menengah ke bawah biar tepat sasaran. Kalau yang di segmen atas itu nggak wajib malah," tutur Sonny kepada Tribunnews.com, Sabtu (29/11/2025).

Sonny mencontohkan, mobil hybrid yang pada umumnya memiliki harga lebih tinggi, rasanya wajar jika tidak diberi insentif.

"Mobil hybrid saja sebetulnya harganya biasanya lebih mahal. Baru yang kemarin keluar Veloz harganya di bawah Rp 300 juta. Tapi yang pasti mobil menengah ke atas itu memang jangan sampai ada insentif, karena dianggap mereka (konsumen) mampu membeli," imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Dewan Pengawas Calya Sigra Club (Calsic) Ryan Cayo. Ia menilai insentif otomotif tidak semata-mata "diskon" bagi produsen, melainkan stimulus untuk menjaga pergerakan ekosistem otomotif dari hulu ke hilir.

"Komunitas melihat bahwa wacana insentif, apapun bentuknya, idealnya tidak hanya dilihat sebagai 'diskon' bagi industri, tetapi sebagai stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat dan memastikan ekosistem otomotif tetap bergerak."

Baca juga: Airlangga Pastikan Tak Ada Insentif Otomotif di 2026, Fokus Bangun Pabrik 

"Ketika pemerintah menyampaikan sinyal berbeda, hal itu membuat pelaku usaha hingga konsumen lebih berhati-hati dan ini bisa makin memperlambat pemulihan pasar," kata Cayo.

Pasar Diprediksi Berat di 2026

Ketika ditanya mengenai situasi pasar jika insentif benar-benar ditiadakan pada 2026, Sonny menyebut dampaknya hampir pasti akan terasa cukup berat.

"Pasti akan lebih susah lagi (pasar mobil). Setahun ini saja susah, anjlok semua mobil, motor juga anjlok. Karena memang ekonomi kita lagi susah setahun ini," ujarnya.

Cayo menambahkan, sebenarnya masih banyak alternatif insentif yang bisa diberikan pemerintah tanpa harus membebani fiskal secara langsung kepada industri.

"Komunitas melihat beberapa hal yang lebih dibutuhkan saat ini, seperti insentif berbasis target penurunan emisi. Lalu pemangkasan biaya kepemilikan seperti relaksasi PPnBM, pengurangan BBNKB, atau insentif pajak daerah untuk kendaraan efisien," ungkap Cayo.

Baca juga: Menperin Agus Gumiwang Kecewa Usulan Insentif Bagi Sektor Otomotif di 2026 Ditolak Menko Airlangga

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved