Xpander Nyaris Gagal, Begini Cara Mitsubishi Menaklukkan Pasar Indonesia
Xpander nyaris gagal jadi mobil sejuta umat. Kisah Shunsuke Kusano menunjukkan empati pada budaya lokal mengubah nasib Mitsubishi di Asia Tenggara
Awalnya, Xpander direncanakan menggunakan mesin 1.2 liter.
Namun uji jalan di kawasan berbukit sekitar Jakarta menunjukkan performa tersebut kurang memadai.
Meski mendapat tekanan untuk berkompromi, Kusano bersikeras memperjuangkan mesin yang lebih besar.
Setelah diskusi intens dengan tim pengembangan di Jepang, Mitsubishi akhirnya menyetujui penggunaan mesin 1.5 liter—keputusan yang kemudian terbukti krusial.Hasilnya terlihat jelas.
Saat diluncurkan, Xpander diserbu pengunjung di pameran otomotif Indonesia.
Pesanan membludak dan antrean pengiriman mengular hingga berbulan-bulan.
Mobil ini pun menjelma menjadi salah satu kendaraan paling populer di Indonesia dan memperkuat posisi Mitsubishi di segmen MPV.
Baca juga: Bukan Sekedar Desain, Fitur Lampu DRL Mitsubishi Xpander Cross Berfungsi untuk Hal Ini
Sukses Berlanjut ke Vietnam
Kesuksesan Xpander tak berhenti di Indonesia.
Saat Kusano ditugaskan ke Vietnam pada 2018, ia menghadapi tantangan berbeda yakni hubungan yang kurang harmonis dengan jaringan dealer.
Ia memilih pendekatan langsung, mendatangi dealer satu per satu, mendengarkan keluhan, bahkan mengambil keputusan tegas memutus kerja sama dengan mitra yang tidak berkembang.
Pendekatan ini membuahkan hasil signifikan.
Dalam enam tahun, pangsa pasar Mitsubishi di Vietnam melonjak dari 2–3 persen menjadi sekitar 13 persen.
Xpander bahkan menjadi mobil terlaris selama dua tahun berturut-turut.
Prinsip yang Tak Berubah
Kini, Kusano kembali ke Jepang dan terlibat dalam pengembangan transportasi masa depan, termasuk bus berbasis AI untuk daerah terpencil.
Meski fokusnya bergeser, prinsip yang ia pegang tetap sama: memahami manusia dan kebutuhannya secara nyata.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Shunsuke-Kusano111111.jpg)