Rupiah Melemah, Industri Otomotif Hadapi Tekanan Berat 2-3 Bulan ke Depan
Kenaikan harga kendaraan tak terhindarkan terjadi karena harga banyak komponen dan bahan baku otomotif masih dipengaruhi nilai tukar.
Ringkasan Berita:
- Industri otomotif nasional masih menghadapi tekanan berat seiring lesunya penjualan kendaraan di pasar domestik dengan volume penjualan di bawah dari 1 juta unit.
- Kenaikan harga kendaraan oleh produsen otomotif tak terhindarkan terjadi karena harga banyak komponen dan bahan baku otomotif masih dipengaruhi nilai tukar.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri otomotif nasional masih menghadapi tekanan berat seiring lesunya penjualan kendaraan di pasar domestik. Selama tiga tahun ke belakang, penjualan mobil baru di Indonesia kurang dari 1 juta unit.
Di tengah permintaan yang belum pulih, pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan akan semakin memperburuk kondisi industri dalam beberapa bulan ke depan karena berpotensi mendorong kenaikan harga kendaraan. Saat ini, rupiah berada di level Rp 18.095.
Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai dampak pelemahan rupiah terhadap industri otomotif belum sepenuhnya terasa saat ini, tetapi tekanan yang lebih besar diperkirakan akan muncul dalam 2-3 bulan mendatang.
"Melemahnya rupiah akan terasa sangat memberatkan 2-3 bulan lagi. Walaupun penjualan sedang merosot, produsen terpaksa menaikan harga," tutur Bebin saat dihubungi Tribunnews.com, Sabtu (6/6/2026).
Menurutnya, kenaikan harga kendaraan oleh produsen otomotif tak terhindarkan terjadi karena harga banyak komponen dan bahan baku otomotif masih dipengaruhi nilai tukar.
Di sisi lain, daya beli masyarakat yang belum pulih membuat pasar kendaraan semakin rentan terhadap penurunan permintaan.
"Keprihatinan penjualan saat ini akan terasa sangat memberatkan dan memperparah kondisi penjualan. Produsen jelas berjuang keras untuk bertahan," jelasnya.
Baca juga: Industri Otomotif Tertekan Pelemahan Rupiah dan Inkonsistensi Kebijakan Pemerintah
Bebin menilai kondisi industri otomotif saat ini masih jauh dari fase pemulihan. Bahkan, ia melihat belum ada indikasi bahwa pasar telah mencapai titik terendah sehingga peluang terjadinya rebound dalam waktu dekat masih terbatas.
"Saat ini belum ada tanda-tanda perbaikan di industri otomotif bahkan yang membuat iba, belum juga menyentuh titik terendah. Jadi jangankan rebound," ucapnya.
Bebin menilai industri otomotif membutuhkan dukungan kebijakan baru dari pemerintah untuk merangsang permintaan dan menggerakkan kembali pasar kendaraan nasional.
Baca juga: 11 Diler Asco Daihatsu Pindah ke Chery, Pengamat Ungkap Alasan Tinggalkan Merek Lama
Menurutnya, sektor otomotif memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian dan penerimaan negara sehingga memerlukan perhatian lebih serius di tengah perlambatan yang terjadi.
"Industri otomotif sangat membutuhkan kebijakan-kebijakan baru untuk merangsang agar bangkit kembali, tapi sayang terkesan dibiarkan. Padahal kontribusinya sangat besar bagi pemasukan kas negara," jelas Bebin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Perakitan-Mobil-BMW-di-Jakarta_20250712_000455.jpg)