Konsumen Mobil Premium 'Wait and See,' Ekonomi Dipenuhi Ketidakpastian
Naiknya belanja pemerintah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), diharapkan jadi pendorong permintaan mobil di segmen premium.
Ringkasan Berita:
- Pasar kendaraan premium di tahun 2026 diperkirakan masih akan menghadapi tekanan seiring ketidakpastian kondisi ekonomi seperti terjadi di 2025.
- Konsumen di segmen premium sangat sensitif terhadap dinamika ekonomi dan kebijakan global.
- Naiknya belanja pemerintah, khususnya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), diharapkan jadi pendorong permintaan terhadap mobil baru di segmen premium.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pasar otomotif nasional, khususnya segmen premium, di tahun 2026 diperkirakan masih akan menghadapi tekanan seiring ketidakpastian kondisi ekonomi seperti terjadi di 2025.
Konsumen mobil premium diperkirakan masih cenderung menahan pembelian mobil baru dan hal ini menjadi tantangan utama bagi pemain kendaraan mewah seperti BMW Astra untuk menjaga kinerja penjualan tahun ini.
Operation Manager BMW Astra Teguh Widodo mengatakan, karakter konsumen di segmen premium sangat sensitif terhadap dinamika ekonomi dan kebijakan global.
"Harus diakui tantangan di 2025 di segmen premium, customer masih wait and see. Mereka melihat dulu sebenarnya ekonomi ini seperti apa," kata Teguh kepada wartawan di acara peresmian diler baru BMW Astra di Mampang, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2026).
Selain faktor ekonomi, isu kesepakatan dagang antara Indonesia dan Uni Eropa juga sempat memengaruhi psikologis konsumen. Kekhawatiran akan terjadinya perubahan tarif impor membuat sebagian konsumen mobil premium menunda pembelian kendaraan.
"Kedua, yang membuat customer semakin wait and see itu soal penandatanganan kesepakatan Indonesia dengan Uni Eropa. Beberapa customer sempat menunggu karena soal tarif," jelasnya.
Baca juga: Pasar Otomotif Melemah, Penjualan Mobil Grup Astra Turun 62.000-an Unit di 2025
Teguh menyatakan kekhawatiran tersebut perlahan mereda setelah konsumen memahami bahwa kesepakatan tersebut merupakan perjanjian antarnegara yang implementasinya tidak serta-merta berdampak langsung pada harga kendaraan.
Apalagi, saat ini BMW Group Indonesia memiliki portofolio kendaraan rakitan lokal (completely knocked down/CKD) yang cukup besar.
"Kita di sini CKD-nya cukup banyak. Kalau soal tarif impor, pemerintah pasti sangat bijak, apalagi menyangkut produksi di Indonesia dan tenaga kerja. Itu yang membuat customer akhirnya kembali beli dan tidak menunggu," ungkap Teguh.
Baca juga: Inves Rp 185 Miliar, BMW Astra Operasikan Diler Retail Next di Jaksel
Karena itu pihaknya memprediksi tantangan pasar di segmen kendaraan premium masih akan serupa tahun sebelumnya.
Meski demikian, perusahaan melihat adanya peluang pertumbuhan seiring dengan meningkatnya belanja pemerintah, khususnya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Feeling saya masih seperti tahun kemarin. Hopefully ada peningkatan, karena pemerintah menambah program MBG dengan anggaran yang besar. Kami meyakini itu akan menumbuhkan ekonomi dari bawah," ujarnya.
Menurut Teguh, pergerakan ekonomi di lapisan bawah akan berdampak langsung pada segmen menengah dan atas, termasuk pasar otomotif premium. Ia menilai rantai ekonomi akan bergerak seiring meningkatnya daya beli masyarakat.
"Kalau ekonomi di bawah naik, bergerak, atasnya pasti menikmati. Petani dapat uang pasti belanja. Dari situ pabrik bergerak, supplier naik dan banyak dari mereka (supplier) itu segmen premium," ucap Teguh.
Ia menambahkan, banyak pelanggan BMW Astra berasal dari pebisnis pangan seperti peternakan telur, daging dan usaha agribisnis lainnya.
Kenaikan belanja negara yang menyentuh sektor riil diyakini akan mendorong kembali permintaan kendaraan premium. "Kalau belanja negara terus dikucurin, pasti premiumnya bergerak. Simple saja, kalau bawahnya naik, atasnya pasti ikut kedorong," kata Teguh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Konferensi-pers-BMW-Astra-Mampang-OK.jpg)