Pasar Mobil Bensin Tergerus, Hybrid dan Mobil Listrik Tancap Gas, PHEV Mulai Dilirik
kendaraan berbasis energi baru,termasuk BEV, hybrid dan PHEV, kini telah menyumbang lebih dari 23 persen pasar otomotif nasional
Ringkasan Berita:
- Pergeseran dari kendaraan berbasis mesin konvensional (Internal Combustion Engine/ICE) ke teknologi baru semakin terlihat
- Pangsa kendaraan listrik meningkat pesat. Jika pada 2021 kontribusinya masih sekitar 0,1 persen, kini telah mencapai sekitar 12,9 persen
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Transformasi industri otomotif menuju kendaraan ramah lingkungan kian terasa. Di tengah pemulihan pasar, segmen kendaraan berbasis energi baru seperti hybrid, mobil listrik (Battery Electric Vehicle/BEV), hingga Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan, pergeseran dari kendaraan berbasis mesin konvensional (Internal Combustion Engine/ICE) ke teknologi baru semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Industri Otomotif Punya Kapasitas 2,5 Juta Unit, Ekspor Jadi Andalan saat Permintaan Domestik Lesu
"Dari tahun 2021 ICE semakin menurun memang dan dari mulai 2021 itu 99,6 persen, di tahun lalu 2025 tinggal 78 persen," ungkap Kukuh dalam agenda Forum Wartawan Industri "Bincang-bincang Lonjakan Harga Minyak Dunia, Momentum Genjot Adopsi Electric Vehicle (EV)", Kementerian Perindustrian, Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (22/4/2026).
Sebaliknya, pangsa kendaraan listrik meningkat pesat. Jika pada 2021 kontribusinya masih sekitar 0,1 persen, kini telah mencapai sekitar 12,9 persen. Sementara itu, kendaraan hybrid juga mengalami kenaikan dari 0,3 persen menjadi sekitar 8 persen lebih.
Secara total, kendaraan berbasis energi baru,termasuk BEV, hybrid dan PHEV, kini telah menyumbang lebih dari 23 persen pasar otomotif nasional.
Kukuh menilai, tren ini menunjukkan adanya perubahan preferensi konsumen yang mulai beralih ke kendaraan hemat energi dan rendah emisi, seiring meningkatnya kesadaran lingkungan serta efisiensi biaya operasional.
"Kita lihat hasilnya, Battery Electric Vehicle itu market share-nya memang cukup tinggi dan total new energy vehicles-nya itu sekarang sudah di level 23 persen lebih. Ini bisa kita lihat ICE 75,3 persen saat ini, BEV-nya 15,9, Hybrid-nya 8,1," terangnya.
Pertumbuhan ini juga didorong oleh mulai hadirnya kendaraan listrik dengan harga yang lebih terjangkau di pasar domestik.
Data Gaikindo menyebut sekitar 70-80 persen konsumen Indonesia berada di segmen harga di bawah Rp 300 juta, sehingga faktor harga menjadi penentu utama adopsi teknologi baru.
"Dengan adanya kendaraan-kendaraan yang sudah dirakit di sini ataupun volumenya besar, maka kendaraan listrik harganya relatif terjangkau dan itu banyak diminati," imbuh Kukuh.
Selain BEV dan hybrid, segmen PHEV mulai muncul sebagai alternatif menarik, meski pangsa pasarnya masih di bawah 1 persen. Kukuh melihat teknologi ini memiliki keunggulan tersendiri, terutama untuk kondisi geografis Indonesia.
Menurutnya, kendaraan PHEV menawarkan fleksibilitas karena dapat beroperasi seperti mobil listrik di dalam kota, namun tetap mengandalkan mesin konvensional saat digunakan untuk perjalanan jarak jauh.
"Kalau digunakan di kota, PHEV bisa berfungsi seperti electric vehicle murni. Tapi di luar kota tidak terlalu khawatir harus mencari SPKLU," ungkapnya.
Baca juga: Mobil Listrik Bakal Kena Pajak, Toyota: Kan Sudah dapat Treatment Spesial 2 Tahun
Dari dinamika pasar ini, transisi menuju kendaraan rendah emisi di Indonesia tidak hanya mengandalkan satu teknologi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/sekum-gaikindo-dan-dirjen-ilmate-kemenperin.jpg)