Cerita Moses Mayer Membuat Aplikasi SampahLink untuk Pengelolaan Sampah

Matematika ternyata juga mengantarkan Moses untuk mengembangkan minatnya terhadap solusi masalah kebersihan di kota besar

Cerita Moses Mayer Membuat Aplikasi  SampahLink untuk Pengelolaan Sampah
TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO
Moses Mayer 

Di masa depan, Moses ingin meniti awal kariernya di luar negeri untuk mencari pengalaman dan menembus jaringan internasional.

“Saya berharap, saya dapat membawa jaringan-jaringan ini agar dapat berguna untuk perkembangan perekonomian Indonesia. Dan tentu saja, saya akan menggunakan ilmu dan ketrampilan data science, matematika dan computer science saya untuk membantu mengatasi permasalahan di Indonesia,” ujarnya.

Dan mimpi besarnya adalah menjadi social entrepreneur yang sukses di negeri ini.

“Dengan menjadi social entrepreneur, saya ingin berperan dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia,” tambah Moses dengan yakin.

Kini ia sedang mempersiapkan diri untuk memasuki jenjang universitas. Yang membanggakan, Moses telah menerima tawaran untuk kuliah di kampus-kampus top kelas dunia.

Lima kampus yang masuk dalam jajaran Ivy League dan siap menyambutnya adalah Harvard University, Princeton University, Yale University, Cornell University dan University of Pennsylvania. Selain itu, M.E.T UC Berkeley, UCLA, University of Michigan dan Carnegie Melon University juga telah menerima Moses untuk belajar di kampus mereka.

Untuk menembus kompetisi di Ivy Leagues dan kampus-kampus top ini, Moses harus membuat banyak esai dan tulisan dalam bahasa Inggris sesuai permintaan masing-masing kampus.

Ia pun menceritakan bagaimana matematika telah berperan dalam kehidupannya, dan menginspirasi Moses dalam berkarya bagi lingkungan dan komunitas sosial.

Ia menjabarkan tentang peran SampahLink dan microfinance club yang dipimpinnya telah memberikan solusi untuk menanggulangi polusi, kesadaran daur ulang, serta membantu menciptakan tingkat kehidupan serta masa depan yang lebih baik bagi kelompok masyarakat ekonomi lemah.

Keberhasilan Moses menembus Ivy League membuktikan bahwa ia memiliki kemampuan lengkap, bukan saja akademik tetapi juga prestasi di luar akademik, dan mengungguli para pesaingnya, mengingat persentase penerimaan yang sangat rendah dan kompetitif.

Halaman
123
Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved