Pertaruhan Status Kota Pelajar, Membangun Literasi Keuangan dari Sekolah Dasar
Bukan sekadar kuliah, kisah Nadzwa di Yogyakarta juga sebagai agen penyalur literasi keuangan di sekolah dasar
TRIBUNNEWS.COM - Pagi itu, di sebuah SD negeri di pinggiran kota pelajar Kota Yogyakarta, suara riuh anak-anak perlahan mereda ketika seorang perempuan muda mengangkat dua benda sederhana—sekeping uang koin dan selembar uang kertas. “Ini sama atau beda?” tanyanya lembut.
Beberapa anak langsung mengangkat tangan, beberapa lainnya masih tampak ragu, tetapi semua mata berbinar.
Perempuan itu adalah Nadzwa Amalia Lutvi, mahasiswa ekonomi yang kini menjadi salah satu penggerak paling aktif dalam gerakan literasi keuangan bagi anak-anak sekolah dasar melalui komunitas Kejar Mimpi Yogyakarta.
Yang tidak anak-anak itu ketahui adalah bahwa perjalanan Nadzwa memahami uang tidak jauh berbeda dengan langkah-langkah kecil yang sedang mereka lakukan saat ini.
Nadzwa tumbuh di Bekasi dalam keluarga yang mengajarkannya kesederhanaan dan kemandirian. Momen pertama yang menghubungkan dirinya dengan konsep uang terjadi ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar.
Saat pertama kali menerima uang saku, ia merasakan kebebasan kecil untuk membeli jajanan yang ia inginkan.
Namun kebebasan itu sekaligus mengajarkan satu realitas sederhana namun penting: uang yang sudah habis tidak akan kembali begitu saja.
Keinginan untuk memiliki sesuatu di luar kemampuan uang sakunya membuat Nadzwa kecil berpikir lebih kreatif.
Di kelas 4 dan 5 SD, ia memutuskan untuk menjual alat tulis dan gambar mewarnai kepada teman-temannya, tentu atas seizin orang tua.
Aktivitas kecil itu menjadi pengalaman pertama yang membuatnya merasa bangga akan kemampuannya mengelola uang.
Di rumah, ibunya selalu mengingatkan kalimat yang terus menempel hingga kini: “Sisihkan dulu kalau menginginkan sesuatu.” Setiap kali mendapat uang, sebagian langsung masuk ke celengan untuk mewujudkan keinginannya.
Baca juga: CIMB Niaga Hadirkan Solusi Wealth Management Terkini Lewat Wealth Xpo 2025
Meski disiplin, ia tidak luput dari pengalaman membeli sesuatu yang akhirnya disesali.
Dari situlah ia belajar memilah antara kebutuhan dan keinginan, pelajaran yang kelak ia ajarkan kembali kepada anak-anak di ruang kelas.
Saat memutuskan merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan tinggi, Nadzwa membawa niat yang tidak semua mahasiswa miliki: ia ingin masa kuliahnya bermakna, bukan sekadar rutinitas belajar.
Niat itu yang kemudian mempertemukannya dengan komunitas Kejar Mimpi, sebuah gerakan anak muda di bawah CIMB Niaga yang berfokus pada pemberdayaan, edukasi karakter, dan aksi sosial di berbagai daerah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Bangun-literasi-keuanganversi-Komunitas-Kejar-Mimpi-Yogyakarta.jpg)