Kurikulum Merdeka
Kunci Jawaban Pendidikan Agama Islam Kelas 4 SD/MI Kurikulum Merdeka Hal 53: Pengayaan
Simak kunci jawaban buku Pendidikan Agama Islam kelas 4 SD/MI Kurikulum Merdeka halaman 53 bab 3: Pengayaan
TRIBUNNEWS.COM – Buku pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas SD/MI Kurikulum Merdeka halaman 53 bab 3 menampilkan tugas Pengayaan.
Salah satu materi yang dibahas pada buku pelajaran buku pelajaran Pendidikan Agama Islam 4 SD/MI Kurikulum Merdeka halaman 53, karangan Ahmad Faozan dkk. terbitan Kemdikbud Ristek tahun 2021 yakni Kisah Ayah Para Nabi.
Kisah para sahabat atau tokoh Muslim adalah cerita tentang kehidupan, sikap, dan perjuangan orang-orang Islam yang menjadi teladan dalam akhlak, keimanan, dan perilaku sehari-hari, baik pada masa Rasulullah maupun setelahnya.
Dengan memahami peran tokoh muslim, manusia diingatkan untuk senantiasa menjaga amal perbuatan dan taat kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Pada latihan soal kali ini, siswa diminta menjawab pertanyaan terkait aktivitas yang ada dalam halaman tersebut.
Sebagai catatan, sebelum melihat kunci buku pelajaran Pendidikan Agama Islam 4 SD/MI Kurikulum Merdeka halaman 53 siswa diminta untuk terlebih dahulu menjawab soal secara mandiri.
Kunci jawaban ini digunakan sebagai panduan dan pembanding oleh orang tua untuk mengoreksi pekerjaan anak.
Kunci Jawaban Pendidikan Agama Islam 4 SD/MI Kurikulum Merdeka Halaman 53: Pengayaan.
Jawaban Pendidikan Agama Islam 4SD/MI Kurikulum Merdeka Halaman 53
Pengayaan
1. Bacalah kisah para sahabat atau tokoh Muslim yang menghargai dan menghormati orang yang berbeda agama!
Jawaban :
Baca juga: Kunci Jawaban PAI Kelas 11 Kurikulum Merdeka Halaman 232: Ikhlas, Malu, dan Zuhud
Untuk mengerjakan tugas ini, saya membaca kisah Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya Umar bin Khattab yang dikenal sangat menghargai dan menghormati orang yang berbeda agama.
2. Tulislah kisah tersebut di kertas dan buatlah majalah dinding!
Jawaban :
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Islam berkembang pesat dan wilayah kekuasaan kaum Muslimin semakin luas. Umar bin Khattab dikenal sebagai pemimpin yang tegas, adil, dan sangat peduli terhadap kesejahteraan rakyatnya, tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang. Baginya, setiap manusia yang hidup di bawah kepemimpinan Islam memiliki hak yang harus dijaga.
Suatu hari, Umar bin Khattab berjalan menyusuri jalanan Madinah untuk melihat langsung kondisi masyarakatnya. Di tengah perjalanannya, ia melihat seorang kakek tua beragama Yahudi yang tampak lemah dan miskin sedang meminta-minta di pinggir jalan. Kakek itu terlihat kesulitan berjalan dan jelas sudah tidak mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Umar merasa sangat prihatin melihat keadaan tersebut. Ia pun mendekati kakek itu dan bertanya dengan lembut tentang alasan ia meminta-minta. Kakek tersebut menjawab bahwa usianya sudah tua, tubuhnya lemah, dan ia tidak lagi mampu bekerja, sementara ia tetap harus membayar kewajiban pajak yang ditetapkan negara. Mendengar jawaban itu, hati Umar tersentuh.
Dengan wajah penuh penyesalan, Umar berkata, “Tidak adil bagi kami jika kami mengambil pajak darimu saat engkau masih kuat, lalu membiarkanmu terlantar di masa tuamu.” Umar menyadari bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk melindungi seluruh rakyatnya, termasuk mereka yang berbeda agama.
Tanpa menunda waktu, Umar bin Khattab segera membawa kakek tersebut ke rumahnya. Ia memberikan makanan dan bantuan agar kakek itu dapat bertahan hidup. Tidak hanya itu, Umar juga memerintahkan para petugas Baitul Mal (kas negara) untuk memberikan jaminan hidup secara rutin kepada kakek tersebut, sehingga ia tidak perlu lagi meminta-minta di jalan.
Umar juga mengeluarkan kebijakan bahwa orang-orang non-Muslim yang sudah lanjut usia, sakit, atau tidak mampu bekerja dibebaskan dari kewajiban pajak dan justru berhak menerima bantuan dari negara. Keputusan ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga keadilan sosial dan kemanusiaan.
Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa Islam mengajarkan toleransi, kasih sayang, dan penghormatan terhadap perbedaan agama. Umar bin Khattab tidak memandang agama kakek tersebut sebagai penghalang untuk menolongnya. Sebaliknya, ia melihatnya sebagai sesama manusia yang wajib dilindungi hak dan martabatnya.
Dari kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa menghormati orang yang berbeda agama adalah bagian dari ajaran Islam. Seorang Muslim diajarkan untuk bersikap adil, peduli, dan berbuat baik kepada siapapun.
Sikap Umar bin Khattab menjadi teladan bagi kita untuk hidup rukun, saling menghormati, dan menjaga persaudaraan dalam masyarakat yang beragam.
*) Disclaimer:
- Artikel ini hanya ditujukan kepada orang tua untuk memandu proses belajar anak.
- Sebelum melihat kunci jawaban, siswa harus terlebih dahulu menjawabnya sendiri, setelah itu gunakan artikel ini untuk mengoreksi hasil pekerjaan siswa.
(Tribunnews.com/Namira)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/anisa-siswa-sekolah-rakyat.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.