Selasa, 14 April 2026

Riset Internasional Soroti Indonesia sebagai Pusat Inovasi Pertanian Berbasis AI

Riset PepsiCo dan National Geographic Society soroti inovasi pertanian AI Indonesia.

Editor: Glery Lazuardi
HO/IST
LAHAN PERTANIAN - Proyek pertanian AI di Indonesia hasil riset PepsiCo dan National Geographic Society dorong ketahanan pangan. 

Ringkasan Berita:
  • Riset global PepsiCo dan National Geographic Society menempatkan Indonesia sebagai pusat inovasi pertanian AI. 
  • Proyek LIFE bantu petani kelola lahan, tingkatkan produksi, serta dorong ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah riset internasional yang melibatkan PepsiCo bersama National Geographic Society menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat perhatian dalam pengembangan pertanian regeneratif berbasis kecerdasan buatan (AI).

Studi tersebut menilai inovasi pertanian di Indonesia mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan melalui pendekatan teknologi dan pemulihan ekosistem tanah.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif global Food for Tomorrow, yang berfokus pada ketahanan tanah serta dukungan bagi petani melalui solusi berbasis sains.

Penelitian dilakukan di empat negara, termasuk Indonesia, dengan fokus pada komoditas pangan di wilayah yang terdampak perubahan iklim.

Salah satu proyek unggulan di Indonesia adalah LIFE (Land Innovation for Food & Empowerment) yang dipimpin oleh Al Greeny S. Dewayanti.

Proyek ini mengembangkan sistem pertanian regeneratif berbasis AI melalui pola tumpang sari jagung dan sacha inchi, tanaman bernilai gizi tinggi yang dikenal sebagai superfood.

Dengan memanfaatkan analisis DNA tanah dan aplikasi berbasis AI, sistem ini membantu petani memahami kondisi lahan serta memberikan rekomendasi pengelolaan yang lebih tepat dan praktis.

“Bagi banyak petani, kesehatan tanah tidak terlihat. Tujuan kami adalah membuat sains lebih mudah diakses agar petani dapat mengambil keputusan yang tepat,” ujar Al Greeny.

Proyek ini juga telah diuji di Labuan Bajo dengan hasil yang menjanjikan, yakni mampu memenuhi hingga 80 persen kebutuhan pangan keluarga melalui sistem multi-crop.

Tak hanya itu, program ini juga mendorong pemberdayaan perempuan melalui 50 pionir yang mengelola koperasi dan produk turunan sacha inchi, sehingga memberikan dampak ekonomi sekaligus sosial di tingkat lokal.

Peneliti Ian Miller menyebut pertanian regeneratif sebagai strategi penting dalam menghadapi krisis iklim global.

Sementara Jim Andrew menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dalam membantu petani beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.

Program Food for Tomorrow sendiri diluncurkan pada 2025 sebagai kolaborasi global untuk mendorong transformasi sistem pangan. Selain Indonesia, riset ini juga dilakukan di Spanyol, Ethiopia, dan Amerika Serikat dengan berbagai komoditas seperti gandum, kopi, kentang, dan kedelai.

Dalam dua tahun ke depan, hasil penelitian ini akan terus dikembangkan dan dipublikasikan melalui pameran, kampanye sosial, serta publikasi ilmiah guna mendorong terciptanya sistem pangan global yang lebih berkelanjutan.

Baca juga: Kumur Ruslin dan Hilirisasi Riset

Petani Klaim Era Prabowo Subianto Bawa Dampak Nyata

Pernyataan akademisi Feri Amsari yang meragukan capaian swasembada pangan di era Presiden Prabowo Subiantomenuai bantahan luas dari masyarakat, khususnya para petani dan warganet di media sosial.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved