Menyoroti Fenomena Mismatch Skill di Pendidikan SMK, Sekolah dan Industri Harus Aktif Berkolaborasi
Demi mengurangi angka pengangguran, sekolah dan industri harus berkolaborasi untuk menghindari mismatch skill siswa dengan kebutuhan industri.
Dari pengakuan Anisa dan Rianti tersebut, dapat dilihat jelas diluar bangku sekolah, masih banyak ilmu lapangan yang belum mereka dapatkan.
Mayoritas siswa juga banyak yang mengaku baru melihat alat-alat penunjang telekomunikasi yang ada di lapangan saat melakukan kunjungan industri ke TBIG tersebut.
Pembelajaran mereka selama ini juga kebanyakan hanya sebatas teori dan ilmu dasarnya saja. Sekolah juga memiliki keterbatasan untuk menyediakan alat-alat tersebut di ruang kelas.
Hal ini turut dibenarkan oleh Kepala Sekolah SMK HS Agung Bekasi, Subur Taufiq.
Subur Taufiq menuturkan, siswanya di sekolah memang hanya belajar dasar-dasarnya saja terkait ilmu komputer dan jaringan.
Untuk itu kunjungan industri ini dilakukan agar siswa bisa mendapatkan pengalaman dan melihat langsung bagaimana peralatan telekomunikasi di lapangan.
Baca juga: Cerita Ahmad Madani Kunjungi 400 Lebih SMK, Perkuat Kompetensi Siswa Pemasaran Digital
"Untuk menambah pengalaman secara langsung, melihat seperti apa sih jaringan yang sebenarnya. Di sekolah kan kita hanya sebatas dasar-dasar saja."
"Tapi ketika dengan kunjungan industri seperti ini, mereka langsung bisa belajar, bisa lebih dalam lagi mengetahui jaringan-jaringan, mekanismenya dari awal sampai ke rumah kita lah. Seperti itu harapannya," kata Subur kepada Tribunnews.com, Jumat (22/5/2026).
Akses kunjungan industri yang diberikan TBIG juga dinilai Subur bisa menjawab kebutuhan sekolah untuk memperdalam skill para siswa.
Karena menurut Subur, sekolah juga membutuhkan masukan dan ilmu dari perusahaan-perusahaan seperti TBIG ini. Agar nantinya skill dari siswa SMK HS Agung Bekasi bisa berkembang.
Secara tidak langsung, sekolah juga membutuhkan partisipasi dari industri untuk ikut mengembangkan skill siswa agar lebih siap kerja.
"Menjawab kebutuhan pihak sekolah untuk mengakses skill anak kita. Kita butuh masukan-masukan. Butuh juga keilmuan dari teman-teman di TBIG ini."
"Pembelajaran, kurikulum, CSR, kelas, sekolah sangat membutuhkan perusahaan-perusahaan dari jaringan atau perusahaan-perusahaan lainnya. Karena ya kita tanpa kerjasama dari industri, anak-anak kita tidak bisa berkembang," jelas Subur.
Baca juga: Siswa SMK Telkom Sidoarjo Jadi Problem Solver Digital di Founder Catalyst
TBIG Integrasikan Pengetahuan Perusahaan ke Dalam Proses Belajar Siswa
Sebagai pelaku industri, TBIG menyadari banyak pengetahuan lapangan dari perusahaan yang sulit didapatkan siswa SMK di bangku sekolah.
Atas dasar itu, TBIG mencoba memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki untuk diintegrasikan ke dalam proses belajar siswa SMK.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kunjungan-industri-SMK-HS-Agung-Bekasi-ke-TBIG-ss.jpg)