Menyoroti Fenomena Mismatch Skill di Pendidikan SMK, Sekolah dan Industri Harus Aktif Berkolaborasi
Demi mengurangi angka pengangguran, sekolah dan industri harus berkolaborasi untuk menghindari mismatch skill siswa dengan kebutuhan industri.
"Program ini sangat tergantung kepada kualitas manajemen sekolah gitu Dari ratusan, kalau kita survei selama dua tahun itu beberapa tahun lalu. Kalau memang secara kualitas juga nggak merata sekolahnya."
"Tapi yang berhasil itu dalam programnya, Biasanya yang manajemen sekolahnya tuh. Komitmennya baik juga. Dan kepala sekolah juga aktif, Jadi, akhirnya terbangun (sinergi)," jelas Fahmi.
Senada dengan Fahmi, Pengamat Pendidikan Doni Koesoema A juga menilai, untuk menciptakan lulusan SMK yang siap kerja, maka perlu sebuah mekanisme untuk menghubungkan sekolah dengan dunia industri.
Agar nantinya siswa-siswi SMK ini setelah lulus bisa langsung terserap oleh industri.
Sekolah juga harus aktif membangun kemitraan dengan perusahaan, untuk membuka jalan para siswa masuk ke dunia kerja.
Baca juga: Kemenbud Buka Magang di Balai Media Kebudayaan bagi Siswa SMK dan Mahasiswa
"Untuk membuat anak yang lulus SMK itu langsung bisa bekerja, harus ada mekanisme yang menghubungkan antara sekolah dengan dunia industri. Sehingga ketika anak-anak itu nanti lulus, bisa langsung terserah di industri itu."
"Jadi SMK itu harus spesifik membangun kemitraan dengan siapa dan disitulah mekanisme terjadi," kata Doni kepada Tribunnews.com, Rabu (27/5/2026).
Doni menegaskan, jika siswa SMK selama di bangku sekolah hanya belajar tentang teori, maka tak akan ada gunanya.
Karena SMK diciptakan agar siswa bisa mempelajari ilmu praktek dan keterampilan khusus. Orang tua yang menyekolahkan anaknya di SMK juga pasti memiliki tujuan agar anaknya bisa langsung bekerja setelah lulus.
"Kalau mereka hanya belajar teorinya saja, tapi nggak pernah menemukan tempat kerjanya di mana, ya itu nggak akan ada gunanya. SMK itu bukan banyak teori, tetapi langsung praktek dan melaksanakan tugas yang memang lebih spesifik."
"Jadi SMK itu bukan ilmu umum yang dipelajari. Dia enggak mempelajari teori umum, tetapi keterampilan khusus. Maka kurikulumnya harus yang membuat antara sekolah dengan dunia industri dan harus ada kemitraan. Kalau dengan itu maka kemudian anak-anak bisa langsung bekerja," ungkap Doni.
Bahkan Doni menegaskan, jika SMK meluluskan siswa yang tidak jelas prospek kariernya nanti, maka sekolah tersebut harus dievaluasi.
"Sekolah-sekolah SMK yang anak lulusannya nggak jelas mau bekerja apa sebaiknya dievaluasi, karena nggak akan ada banyak manfaatnya. Orang tua memilih SMK itu kan supaya anak bisa langsung dapat pekerjaan," tegas Doni.
(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kunjungan-industri-SMK-HS-Agung-Bekasi-ke-TBIG-ss.jpg)