Ramadan 2019

Bulan Ramadan Bulan Ridho Dan Mahabbah Dari Allah SWT

Keajaiban dan ketakjuban senantiasa menghiasi bulan Ramadan. Kemilau indahnya menjadi sarana turunnya para malaikat ke bumi.

Bulan Ramadan Bulan Ridho Dan Mahabbah Dari Allah SWT
Grafis/Rahmandito Dwiatno
Bulan Ramadan 

Sebagai yang disemati dengan poros kesufian (qutb ash-shufi), rupa-rupanya Sang Syekh masih mempertimbangkan pemahaman awam dalam memahami ayat-ayat Alquran. Terbukti dalam memahami ayat-ayat tentang keutamaan Ramadan tidak terlalu banyak menggunakan terminologi rumit khas para sufi. Seperti tampak dalam karya tafsirnya yang diberi judul Tafsir Al-Jailani. Dalam karya tafsir ini, aspek normatif yang dia kutip dari hadis-hadis shahih masih mendominasi penjelasannya berkenaan dengan rahasia bulan Ramadan. Pun dengan pernyataan para sahabat dan salafus saleh yang menjadi acuan dalam penjelasan tema tersebut. Ini tidak lantas memberikan kesimpulan bahwa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani tidak memiliki karya dengan ragam kerumitan. Jika pembaca mau menggeledah kitab-kitabnya yang diperuntukkan para salik seperti Sirr al-Asrar, as-Safinah al-Qadiriyyah, dan beberapa bagian di al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq, dll. kita akan mendapati sejumlah kerumitan di dalamnya.

Menarik merunut penjelasan Ramadan dari sisi penafsiran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani terhadap QS Al-Baqarah [2]: 186. Ramadan dalam konteks ayat ini merupakan bulan yang memiliki derajat dan martabat tertinggi serta paling mulia di sisi Allah. Pada bulan ini, berdasarkan riwayat Ibnu Abbas, Alquran diturunkan secara keseluruhan dari Lauh al-Mahfuzhsaat Lailatul Qadr. Kemudian diletakkan di Baitul Izzah di langit dunia, dan disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhamad Saw secara bertahap selama dua puluh tiga tahun. Tidak hanya itu, kemuliaan bulan Ramadan ditambah dengan adanya fakta bahwa empat kitab (Alquran, Taurat, Zabur, dan Injil) juga diturunkan pada bulan itu.

Alquran diturunkan sebagai petunjuk bagi orang-orang (hudan lin nasi) yang beriman dengan keesaan Allah dan menghadapkan pandangannya yang menuntun ke arah tingkatan yakin (martabat al-yaqin). Demikian pula, Alquran menjadi penjelas terhadap penyaksian dan tanda-tanda “petunjuk” yang begitu nyata. Petunjuk ini akan menyampaikan mereka yang telah tersingkap dari rahasia-rahasia keesaan (tauhid) menuju ke tingkatan kasat mata (ainul yaqin). Sementara itu, fungsi Alquran sebagai pembeda (al-Furqan), atau yang menjadi pembeda antara al-Haqq(kebenaran sejati) yaitu Allah Yang Mahawujud dan al-bathil (kenisbian; ketiadaan) dari seluruh wujud alam semesta selain Allah itu sendiri. Pembeda (al-Furqan) ini akan mengantarkan mereka ke tingkatan pengetahuan hakiki (haqq al-yaqin).[3]

Sepertinya identifikasi sufisme tidak ditinggalkan oleh Sang Syekh, dia tetap menyematkan makna simbolik dari kata Ramadan.[4] Huruf ra sama dengan ridhwanullah (keridaan Allah); mim berarti muhabatullah (cinta kasih Allah terhadap para pelaku dosa); huruf dhadh diartikan dengan dhimmanullah  (tanggung jawab atau garansi dari Allah); hurufalif bermakna alfatullah (keramahan Allah); huruf nun sama dengan nurullah (cahaya Allah). Karena itulah, bulan Ramadan menjadi bulan keridaan, bulan kecintaan Allah, bulannya Allah yang penuh tanggung jawab, bulan keramahan Allah, bulan limpahan dan karamah bagi para wali dan pelaku kebajikan.

Demikianlah, segala sesuatu memiliki pusat orbitnya masing-masing. Dari pusat orbit itulah semua hal bermula. Dia menjadi semacam pijakan awal dalam keberlangsungan alam semesta. Dia menjadi yang terbaik di antara yang lain. Dan Al-Jailani menandai Ramadan sebagai Punggawa di antara bulan-bulan lainnya (sayyidusy syuhur). Seperti Adam sebagai Tuan bagi sekalian manusia, Muhammad sebagai Tuannya bangsa Arab dan non Arab, Salman Al-Farisi sebagai punggawanya orang-orang Persia; Al-Baqarah sebagai sayyid Alquran, dan ayat kursi menjadi tuannya surat Al-Baqarah.

Keajaiban dan ketakjuban senantiasa menghiasi bulan Ramadan. Kemilau indahnya menjadi sarana turunnya para malaikat ke bumi. Membagi-bagikan kasih sayang Tuhan bagi para pelaku kebaikan, memberikan harapan besar bagi para pelaku dosa untuk terus mendekati Tuhan tanpa rasa sungkan. Seperti kata Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Ramadan ibarat hati di dalam dada; seperti kehadiran para nabi di antara sekian makhluk. Layaknya Makkah bagi Arab, di mana Dajjal tak diizinkan menginjakkan kakinya di sana. Setan terbelenggu, dan para Nabi memberikan syafaat bagi para pelaku kemaksiatan.

Bulan Ramadan menjadi syafaat bagi mereka yang berpuasa, sementara hati-hati dihiasi dengan cahaya makrifat dan keimanan. Bulan itu, dilimpahi kilauan bacaan Alquran. Maka, siapakah kalian yang tak meraih ampunan Tuhan di bulan Ramadan, lantas di bulan apa lagi kalian akan diampuni? Mohonlah ampunan, duhai hamba Allah, sebelum pintu-pintu ampunan tertutup. Mintalah ampunan kepada-Nya sebelum habis masa pengampunan. Menangislah, wahai manusia, sebelum waktu menangis dan kasih sayang terlewatkan. Wallahu a’lam bish shawab

Artikel ini telah tayang di ganaislamika.com dengan judul: https://ganaislamika.com/puasa-kaum-sufi-8-rahasia-ramadan-syekh-abdul-qadir-al-jilani/

Editor: Husein Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved