Selasa, 14 April 2026

Ramadan 2026

KH Cholil Nafis: Yang Membedakan Manusia dengan AI Adalah Integritas

Wakil Ketua Umum MUI Kiai Cholil Nafis menekankan bahwa yang membedakan manusia dengan kecerdasan buatan adalah integritas. 

|
Penulis: Chaerul Umam
Editor: Adi Suhendi

Ringkasan Berita:
  • Kiai Cholil Nafis mengatakan setiap generasi memiliki tantangan dan karakter yang berbeda-beda
  • Kiai Cholil menyoroti tantangan baru berupa ketergantungan pada teknologi, termasuk kecerdasan buatan
  • Ilmu harus memiliki sanad atau mata rantai transmisi yang jelas dan dapat dipercaya

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis, menegaskan setiap generasi memiliki tantangan dan karakter yang berbeda-beda.

Sebab itu, pendekatan dalam mendidik dan membimbing pun tidak bisa disamakan dari satu angkatan ke angkatan lainnya.

Hal itu diungkapkannya saat wawancara khusus dengan Tribun Network, dalam program 'Cerita Kiai', di Jakarta, Senin (16/2/2026).

“Setiap hidup itu ada tantangannya, ada zamannya, dan ada generasinya. Murid yang saya terima tiap tahun selalu berbeda, baik cara merespons, kecerdasan, perilaku, maupun cara belajarnya,” kata Kiai Cholil.

Kiai Cholil menilai, setiap zaman melahirkan tokohnya sendiri.

Karena itu, masa muda menjadi fase penting yang tidak boleh disia-siakan.

Baca juga: KH Cholil Nafis: Politik Bukan Jalan Saya, Banting Setir Jadi Akademisi

Dia mengingatkan generasi muda agar memanfaatkan waktu untuk mengisi diri dengan ilmu dan pengalaman yang bermanfaat.

Kiai Cholil mengaku dirinya pun masih merasa banyak kekurangan dalam proses belajar yang telah dijalaninya. 

Dia membayangkan, betapa lebih besarnya potensi yang bisa diraih apabila waktu muda benar-benar dioptimalkan untuk menuntut ilmu.

Baca juga: KH Cholil Nafis Ungkap Awal Mula Dipanggil Kiai di Layar Televisi

Di era digital saat ini, Kiai Cholil juga menyoroti tantangan baru berupa ketergantungan pada teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI/ Artificial Intelligence). 

Dia menyebut AI sebagai “akal imitasi” atau akal tiruan yang mampu memberikan jawaban cepat, tetapi tetap membutuhkan verifikasi.

“Bahaya ketika orang lebih senang berkomunikasi dengan mesin daripada dengan manusia. Apalagi jika jawaban mesin itu langsung dianggap sebagai kebenaran tanpa diverifikasi kepada ahlinya. Itu bisa menjadi kebenaran semu,” katanya.

Sebab itu, ia menekankan pentingnya belajar dengan bimbingan guru. 

Dalam tradisi Islam, kata dia, ilmu harus memiliki sanad atau mata rantai transmisi yang jelas dan dapat dipercaya.

Ilmu tidak cukup hanya berupa informasi yang berserakan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved