Ramadan 2026
Tips Jaga Lisan dan Jari di Media Sosial Saat Bulan Ramadan: Hindari Ghibah dan Pertemanan Toxic
Menjadikan media sosial jadi sarana menyebarkan kebaikan juga dapat memberikan dampak positif, tak hanya bagi diri sendiri tapi juga bagi orang lain..
Ringkasan Berita:
- Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk lebih selektif dalam memilih komunitas, grup percakapan, hingga akun media sosial.
- Sebaliknya, pertemanan yang bersifat toxic berpotensi menjerumuskan seseorang pada kebiasaan negatif yang dapat mengurangi makna puasa.
- Ramadan bukan hanya ibadah ritual tahunan, tetapi juga momentum untuk memperbaiki kualitas diri secara menyeluruh
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ramadan menjadi momentum penting bagi umat Muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah sekaligus memperbaiki perilaku sehari-hari.
Baca juga: Doa Mandi Puasa Ramadan: Dasar Hukum yang Perlu Diketahui dan Waktu Pelaksanaannya
Tidak hanya menahan lapar dan dahaga, puasa juga mengajarkan pengendalian diri, termasuk dalam menjaga ucapan serta aktivitas di media sosial. Di era digital saat ini, tantangan menjaga lisan tidak hanya terjadi dalam percakapan langsung, tetapi juga melalui tulisan, komentar, hingga unggahan di berbagai platform digital.
Menurut Ustaz Rikza Maulan LC, M.Ag yang juga Dewan Pengawas Syariah Rumah Zakat esensi puasa Ramadan tidak hanya berkaitan dengan menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perkataan yang tidak bermanfaat, termasuk gibah.
Jaga Lisan di Era Digital
Menjaga lisan memiliki makna yang lebih luas di zaman modern. Selain menjaga ucapan secara langsung, umat Muslim juga perlu menjaga “lisan digital”, yakni jari yang digunakan untuk mengetik pesan, berkomentar, hingga membagikan informasi di media sosial.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tanpa sadar terlibat dalam gibah melalui komentar, unggahan, atau percakapan grup digital. Padahal, kebiasaan tersebut dapat mengurangi nilai ibadah puasa dan berpotensi menimbulkan dosa.
Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk mulai membiasakan diri hanya menyampaikan hal yang membawa manfaat. Jika tidak mampu berkata baik, dianjurkan untuk memilih diam dan menghindari perdebatan yang tidak perlu di media sosial.
"Yang harus kita jaga ketika Ramadan adalah menjaga lisan, hifdul lisan. Karena memang esensi shaum itu adalah bukan sekedar menjaga diri dari makandan minum, tetapi juga menjaga lisan agar kita tidak melakukan perkataan yang tidak bermanfaat apalagi ghibah," kata Ustaz Rikza Maulan dalam pernyataannya saat siniar bersama Rumah Zakat di Kota Bandung, Jawa Barat beberapa waktu lalu.
Cara Menjaga Lisan dan Jari Selama Ramadan
Agar puasa lebih bermakna, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjaga lisan dan aktivitas digital selama Ramadan:
1. Memilah Informasi Sebelum Membagikan
Pastikan setiap informasi yang dibagikan memiliki manfaat, tidak mengandung fitnah, serta tidak merugikan orang lain. Menghindari menyebarkan gosip dan rumor menjadi salah satu cara menjaga kualitas ibadah.
Baca juga: Green Ramadan: Kesalehan Spiritual dan Etika Ekologis
2. Memanfaatkan Media Sosial untuk Kebaikan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ustaz-Rikza-Maulan-di-kantor-Rumah-Zakat.jpg)