Ramadan 2026
Jejak Intelektual Wakil Ketua MUI KH Cholil Nafis: Dari Pesantren ke Panggung Nasional
Tribunnews.com kembali menyajikan kisah inspiratif CERITA PARA KIAI di hari kedua Ramadan 1447H/2026 M. Kali ini jejak KH Cholil Nafis.
CERITA PARA KIAI Episode 2
Ringkasan Berita:
- Tribunnews.com kembali menyajikan kisah inspiratif bertajuk CERITA PARA KIAI.
- Kali ini, Tribunners diajak menelusuri jejak intelektual Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI)KH Cholil Nafis.
- Yuk simak kisah inspiratifnya.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tribunnews.com kembali menyajikan kisah inspiratif bertajuk CERITA PARA KIAI di hari kedua Ramadan 1447H/2026 M.
Berikut Ini adalah seri CERITA PARA KIAI Episode 2.
Baca juga: KH Cholil Nafis: Yang Membedakan Manusia dengan AI Adalah Integritas
Kali ini, Tribunners diajak menelusuri jejak intelektual Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI)KH Cholil Nafis.
Perjalanan kariernya membersamai umat di panggung nasional tidaklah instan. KH Muhammad Cholil Nafis ditempa sejak kecil di lingkungan pesantren Madura hingga meraih gelar doktor ekonomi syariah di luar negeri.
Dari tanah Madura, langkah seorang santri dimulai. Di lingkungan keluarga sederhana yang kental dengan tradisi pesantren, nilai-nilai agama telah menjadi napas keseharian.
Anak itu bernama KH Muhammad Cholil Nafis. Kini ia dikenal sebagai Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun sebelum berada di forum-forum nasional, ia adalah santri yang tumbuh dalam disiplin ilmu agama dan kitab-kitab klasik.
Akar Pesantren Sejak Dini
KH Cholil lahir dari keluarga yang memadukan tradisi keagamaan dan kewirausahaan. Dari jalur ibu, ia berasal dari keluarga kiai yang memiliki pesantren. Sementara sang ayah berprofesi sebagai pengusaha.
“Kalau dari jalur bapak adalah pengusaha. Tapi anak-anaknya disekolahkan di sekolah agama, bahkan kita semua itu pendidikan agama di pondok pesantren,” ujarnya.
Sejak kecil, ia akrab dengan Al-Qur’an dan kitab kuning. Pendidikan dasarnya ditempuh di Madura, lalu melanjutkan ke sejumlah pesantren. Ia pernah belajar di Cerenguan, Sampang.
Baca juga: Gaya Belajar Unik KH Cholil Nafis: Tak Suka Mencatat, Lebih Konsentrasi Menulis di Tengah Keramaian
Kemudian ia meneruskan pendidikan Tsanawiyah di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan.
“Kemudian meneruskan Tsanawiyah di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan,” kenangnya.
Untuk jenjang Aliyah, ia kembali ke Madura dan belajar di Panyeppen, Pamekasan.
Lingkungan pesantren itulah yang membentuk karakter dan cara pandangnya terhadap kehidupan.
“Jadi kehidupan memang sekolah agama. Saya dari kecil belajar Al-Qur’an, belajar kitab-kitab klasik, itu yang lebih banyak ditekuni,” tuturnya.
Menjembatani Tradisi dan Akademik Modern
Setelah menempuh pendidikan pesantren, KH Cholil melanjutkan pendidikan tinggi dengan mengambil jurusan fikih perbandingan mazhab dan pendidikan agama Islam.