Kamis, 7 Mei 2026

Ramadan 2026

Budaya Instan Bikin Otak Tak Sabar? Puasa Dinilai Ampuh Latih Kontrol Diri dan Emosi

Puasa bukan sekadar menahan lapar. Latihan ini bantu reset dopamine, perkuat kontrol diri, dan bikin emosi lebih stabil di era serba instan

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Eko Sutriyanto
National University of Singapore
ILUSTRASI PUASA - Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dari RSUP Surakarta, dr. Indah Puji Handayani, Sp.KJ, M.Gizi, menilai puasa justru menjadi momen penting untuk melatih ulang kontrol diri dan kesadaran di tengah derasnya budaya instant reward 

Menunda respons berarti memberi ruang pada otak untuk berpikir. Dari situ, seseorang memiliki lebih banyak opsi dan mampu memilih tindakan sesuai nilai yang dianutnya.

Self-control yang terlatih ini berdampak besar. Emosi menjadi lebih stabil, keputusan lebih matang, dan perilaku lebih adaptif dalam kehidupan sosial.

Reset Dopamine di Era Instant Reward

Dr. Indah menyoroti bahwa kehidupan modern membuat sistem reward dopamine di otak terlalu sering terpapar kepuasan cepat. Hal ini bisa memicu perilaku impulsif hingga adiktif.

Saat seseorang terbiasa mendapatkan kesenangan secara instan, sensitivitas dopamine bisa terganggu. 

Otak menjadi kurang terlatih untuk menunda kepuasan.

Puasa justru menghadirkan proses kebalikan: kepuasan ditunda. Rasa lapar tidak langsung dipenuhi. Keinginan tidak segera dituruti.

“Jadi ketika berpuasa, ini akan terkait sekali dengan kita melatih yang namanya self-control dan juga mindfulness yang itu akan bermanfaat sekali bagi kita,"lanjutnya. 

Dengan menunda reward, sistem dopamine menjadi lebih sensitif dan seimbang kembali. 

Hal ini membantu seseorang menjauh dari perilaku berulang yang kompulsif serta membuat kontrol diri lebih kuat.

Baca juga: Lemonilo dan Gaabor Hadirkan Kolaborasi Ramadan Penuh Makna untuk Rumah Tangga

Dampaknya untuk Emosi dan Relasi Sosial

Latihan menunda reaksi saat puasa memberi waktu bagi emosi untuk tidak meledak. 

Respons yang biasanya impulsif menjadi lebih terkontrol karena sudah diproses secara sadar.

Manfaatnya bukan hanya pada diri sendiri, tetapi juga dalam relasi sosial. 

Seseorang dengan kontrol diri yang baik cenderung lebih adaptif, lebih mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan lebih bijak dalam mengambil keputusan.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, puasa menjadi ruang latihan alami untuk memperlambat respons, menyadari sensasi, serta memperkuat fungsi berpikir.

Bukan sekadar menahan lapar, puasa ternyata menjadi momen untuk membangun mindfulness, memperkuat self-control, dan mereset sistem reward di otak, sesuatu yang justru sangat dibutuhkan di era serba instan seperti sekarang.
 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved