Lebaran 2026
Lebih Awal dari Muhammadiyah, Ini Daftar Lokasi Salat Idul Fitri yang Digelar 18 dan 19 Maret 2026
Sejumlah warga ada yang sudah menggelar salat Idul Fitri 1447 H lebih awal yakni di Ponorogo Jawa Timur dan Padang Sumbar.
"Di wilayah kami ada kegiatan masyarakat, yakni pelaksanaan salat Ied. Kami dari polri memberikan rasa aman dan nyaman untuk masyarakat yang hari ini merayakan Idul Fitri lebih awal," kata Kapolsek Sukorejo, IPTU Agus Tri Cahyo Wiyono.
Menurut Cahyo, perbedaan bukan dasar perpecahan tapi jadi bibit indah persaudaraan.
"Janganlah perbedaan menjadi jadi pecah belah, dengan adanya perbedaan, bisa membuat warna semakin indah. Di sini toleransi sangat kuat dan akrab, sehingga masyarakatnya bisa jaga kamtibmas," pungkas IPTU Agus.
Salat Idul Fitri di Padang 18 Maret 2026
Sebelumnya, dilansir Tribunnews.com, puluhan jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Lubuk Sarik, Kelurahan Padang Besi, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) menunaikan ibadah salat Idulfitri 1447 H, Rabu, (18/3/2026) pagi.
Jemaah Tarekat Naqsabandiyah merayakan Lebaran lebih dulu dari Pemerintah.
Pelaksanaan salat Ied yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 09.00 WIB ini menjadi momen spesial, terutama dengan hadirnya sosok khatib muda berusia 20 tahun, Riski Rafandi.
Riski tidak hanya bertindak sebagai jemaah, namun ia dipercaya berdiri di mimbar menyampaikan khutbah raya di hadapan puluhan pasang mata jemaah yang memenuhi masjid.
Dalam penyampaiannya, Riski menggunakan bahasa Arab yang fasih, menjaga tradisi literasi klasik yang selama ini dipertahankan oleh jemaah Naqsabandiyah secara turun-temurun.
Riski mengungkapkan bahwa penetapan 1 Syawal bagi jemaah mereka didasarkan pada perhitungan yang matang menggunakan Kitab Munjid (Munjib).
Puasa 30 Hari
Menurutnya, jemaah di lokasi tersebut telah memulai ibadah puasa Ramadan sejak tanggal 16 Februari lalu, sehingga hari ini puasa mereka telah genap 30 hari.
"Kami sudah menunaikan puasa sejak 16 Februari. Jadi, hari ini hitungannya sudah genap satu bulan penuh atau 30 hari," ujar Riski seusai pelaksanaan salat Id.
Penetapan waktu ibadah ini, lanjut Riski, merupakan hasil perpaduan metode warisan para ulama tarekat yang mencakup hisab, rukyah, serta berpegang teguh pada dalil, ijma, dan qiyas.
Metode Hisabul Rukyat yang digunakan tidak sekadar mengandalkan perhitungan astronomi tradisional di atas kertas, tetapi juga mencocokkannya dengan fenomena alam yang teramati.
Perpaduan antara hitungan matematis dan pengamatan fisik hilal ini dianggap sebagai cara yang paling akurat oleh jemaah untuk menentukan pergantian bulan hijriah.