Kamis, 4 Juni 2026

Lebaran 2026

Sejumlah Warga Tulungagung, Jember, Padang, dan Ponorogo Gelar Salat Idulfitri Hari Ini, 19 Maret

Sejumlah warga di tanah air sudah menunaikan salat Idulfitri pada hari ini, Kamis, 19 Maret 2026.

Tayang: | Diperbarui:
Tribun Padang/Arif Ramanda
SALAT IDUL FITRI- Puluhan jemaah Tarekat Naqsabandiyah berkumpul untuk melaksanakan ibadah Salat Idul Fitri 1447 H lebih awal dibandingkan ketetapan pemerintah di Surau Baru, Kecamatan Pauh, Kota Padang, pada Kamis (19/3/2026) pagi. 
Ringkasan Berita:
  • Beberapa warga di sejumlah daerah di Indonesia sudah melaksanakan salat Idulfitri tanggal 19 Maret 2026.
  • Jemaah yang menggelar salat di antaranya jemaah Ponpes Al Khoriyah, jemaah Tarekat Naqsabandiyah, hingga warga Desa Suger Kidul.
  • Salat Idulfitri berlangsung secara lancar.

 

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah warga di tanah air sudah menunaikan salat Idulfitri pada hari ini, Kamis, 19 Maret 2026.

Mereka lebih dulu menyambut Lebaran daripada warga Muhammadiyah yang menetapkan Lebaran jatuh pada hari Jumat besok. Sementara itu, sore ini pemerintah baru akan menggelar sidang isbat penentuan hari raya Idulfitri 1447 Hijriah.

Berikut Tribunnews merangkum sejumlah warga di beberapa daerah yang telah melaksanakan salat Idulfitri hari ini.

1. Jemaah Ponpes Al Khoiriyah Tulungagung

Jemaah Pondok Pesantren Al Khoiriyah di Desa Wates, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, memilih menunaikan salat Idulfitri pada Kamis pagi, (19/3/2026).

Para jemaah di ponpes ini dikenal sebagai jemaah Al Muhdlor. Nama Al Muhdlor meruujuk kepada Habib Sayyid bin Salim Al Muhdlor yang menjadi perintis.

Mereka mendatangi masjid di area ponpes sejak pagi hari. Sejumlah jemaah membawa nasi berkat untuk makan bersama setelah melaksankan salat Idulfitri sekitar pukul 06.30 WIB.

"Ada sekitar 100 orang jemaah yang salat Idulfitri hari ini. Untuk pengamanan kami lakukan secara terbuka dan tertutup (intelijen)," kata Kapolsek Sumbergempol AKP Mohammad Anshori dikutip dari Tribun Jatim.

Anshori berujar beberapa personel Polres Tulungagung hadir untuk mengamankan jalannya salat. Menurut dia, jemaah Al Khoiriyah berasal dari desa setempat dan desa-desa sekitar di wilayah Kecamatan Sumbergempol.

Lalu, Anshori menyebut keberadaan jemaah Al Muhdlor diterima dengan baik oleh masyarakat meski berbeda hari dalam melaksanakan salat Idulfitri.

"Selama ini tidak ada masalah, semua bisa berbaur tidak ada pertentangan. Penerimaan masyarakat juga baik," ucap Anshori.

Merayakan Idulfitri lebih awal ini sudah lama dilakukan oleh jemaah ini. Tradisi ini bertahan karena tidak ada pertentangan. Sikap saling menghargai terjalin di sana.

Anshori menyampaikan pihak ponpes tidak langsung menggelar open house demi menghormati umat Islam yang masih berpuasa. Open house baru digelar setelah Idulfitri versi pemerintah.

Baca juga: Deretan Program Hiburan Spesial Lebaran 2026 Bakal Tayang di Televisi Selama Libur Idul Fitri

2. Warga Desa Suger Kidul di Jember

Sejumlah warga di Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, Jawa Timur, menggelar salat Idulfitri pada Kamis pagi ini.

Salat ditunaikan di beberapa tempat, misalnya Masjid Salafiyah Syafi’iyah dan kompleks Pondok Ponpes Mahfilud Duror.

Jemaah salat Idulfitri tidak hanya berasal dari Jember, tetapi juga dari sejumlah daerah lain, misalnya Kabupaten Bondowoso. Kebanyakan dari mereka adalah alumni santri ponpes itu yang masih mengikuti ajaran gurunya.

Adapun penentuan jatuhnya Idulfitri dilakukan dengan metode hisab yang mengacu pada kitab salaf Nushatul Majaalis Wa Muntahabul Nafaais karya Syaikh Abdurrohman As-Sufuri As-Syafi’i. Metode seperti itu disebut sudah digunakan selama ratusan tahun.

“Sudah diterapkan sejak dulu oleh kiai sepuh memang seperti itu,” kata Hafid Malik yang menjadi imam salat Idulfitri di Masjid Salafiyah Syafi’iyah.

Hafid mengatakan metode titu berbeda dengan metode pemerintah dan ormas Islam lainnya. Meski demikian, dia menggarisbawahi pentingnya menghargai perbedaan.

Ia mengakui metode tersebut berbeda dengan penentuan pemerintah maupun organisasi Islam lain. Namun, ia menekankan pentingnya saling menghormati perbedaan.

Personel TNI dan Polri berjaga mengamankan lokasi salat. Menurut Kapolsek Jelbuk Iptu Brisan Imanulla menyebut perbedaan waktu pelaksanaan salat Idulfitri sudah menjadi dianggap sebagai hal yang biasa di sana.

“Perbedaan ini dianggap sebagai anugerah, bukan halangan untuk menjaga kerukunan,” kata Brisan.

Baca juga: Daftar Lokasi Shalat Idul Fitri 2026 Muhammadiyah se-Indonesia, Dilengkapi Alamat dan Link Download

3. Jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Padang

Kamis pagi, puluhan jemaah Tarekat Naqsabandiyah berkumpul di Surau Baru yang berlokasi di Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatra Barat, guna melaksanakan salat Idulfitri 

Adapun sehari sebelumnya ada jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Masjid Jami' Labuk Sarik, Kelurahan Padang Besi, Kecamatan Lubuk Kilangan, yang lebih dulu menunaikan salat Idulfitri.

Para jemaah mendatangi area surau sejak pukul 07.00 WIB. Jemaah laki-laki memakai baju koko, sedangkan yang perempuan mengenakan mukena putih.

Salat berlangsung dengan khidmat dan dilanjutkan dengan khotbah dalam bahasa Arab. Kemudian, berkumpul untuk makan bersama di dalam area surau.

Menurut Zahar selaku pengurus sekaligus Imam Surau Baru, Zahar, keputusan menggelar salat Idulfitri pada Kamis pagi tidak diputuskan secara mendadak.

Zahar berkata penetapan 1 Syawal didasarkan pada penyempurnaan ibadah puasa Ramadan selama 30 hari penuh.

"Malam takbiran sudah dimulai Rabu malam sebagai tanda berakhirnya masa puasa bagi jemaah kami," kata Zahar di lokasi, dikutip dari Tribun Padang.

Lalu, dia menyebut Tarekat Naqsabandiyah mempunyai dasar tersendiri dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadan. Dasar atau pakem itu diwariskan secara turun-temurun oleh ulama-ulama sebelumnya.

Metode yang dipakai adalah kombinasi antara perhitungan astronomi tradisional atau hisab, serta pengamatan langsung terhadap bulan atau rukyah.

4. Jemaah Tarekat Syattariyah di Ponorogo

Jemaah Tarekat Syattariyah di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, turut menggelar salat Idulfitri hari ini. Mereka mendatangi Pondok Pesantren Darul Islam di Desa/Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, yang menjadi lokasi salat.

Pengasuh Ponpes Darul Islam, Ahmad Khumaidi, mengatakan jemaah Tarekat Syattariyah sudah memulai ibadah puasa Ramadan 2026 satu hari lebih dulu daripada yang ditetapkan oleh pemerintah. Menurut dia, jemaah tarekat sudah menggenapkan puasa selama 30 hari.

"Kami awal puasa lalu dimulai pada hari Selasa," kata Khumaidi setelah salat Idulfitri, dikutip dari Surya Malang.

Menurut pengamatan di lokasi, jemaah yang datang tidak hanya dari Ponorogo, tetapi juga dari Madiun, Kediri, hingga Wonogiri. Jemaah laki-laki menganakan sarung, sedangkan jemaah perempuan mengenakan mukena.

Khumaidi berkata perbedaan hari mengenai awal Ramadan maupun Idulfitri tidak perlu diperdebatkan.

“Perbedaan ini sudah berlangsung lama dan masyarakat saling menghormati. Ibadah pada dasarnya adalah niat kepada Allah,” kata Khumaidi.

Dia berkata jemaah memilih untuk tidak mengumandangkan takbir demi menghormati umat Islam lain yang masih berpuasa.

(Tribun Jatim/David Yohanes/Imam Nawawi/Tribun Padang/Arif Ramadan/Surya Malang/Iksan Fauzi)

 

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved