Selasa, 14 April 2026

Lima Juta Penduduk Riau Terancam Akibat Boikot CPO

Boikot CPO asal Indonesia yang dilakukan Nestle dan Unilever mulai mendapat perlawanan dari sejumlah elemen di Riau. Rabu (14/4/2010) siang, ratusan massa yang merupakan gabungan dari tiga organisasi menggelar aksi demontrasi di kantor Gubernur Riau.

Editor: Harismanto
Laporan Wartawan Tribunpekanbaru.com, Afrizal
TRIBUNNEWS.COM, PEKANBARU
- Boikot CPO asal Indonesia yang dilakukan Nestle dan Unilever mulai mendapat perlawanan dari sejumlah elemen di Riau. Rabu (14/4/2010) siang, ratusan massa yang merupakan gabungan dari tiga organisasi menggelar aksi demontrasi di kantor Gubernur Riau.

Mereka meminta pemerintah tidak hanya diam menanggapi adanya boikot CPO dari dua perusahaan raksasa tersebut. Apalagi sekitar lima juta penduduk Riau merupakan pekerja yang menjadi buruh dan petani sawit.

Massa yang berasal dari Pemuda Penerus Amanat Proklamasi Republik Indonesia (PPAPRI), Gerakan Mahasiswa Anti Neo Liberalisme (Gema Anti Neolib) dan Forum Mahasiswa Peduli Petani Sawit (FMPPS) memulai aksi mereka sekitar pukul 11.15 WIB. Lima bus yang membawa massa langsung turun di gerbang utara pintu masuk komplek kantor gubernur.

Massa yang menggelar aksi dibawah terik matahari sempat sedikit emosi. Keinginan mereka bertemu Gubernur Riau menyampaikan permintaan agar tidak diam saja dengan aksi boikot ini justru dihadang petugas satpol PP. Puluhan Satpol PP yang siaga di depan pintu masuk langsung menutup pagar. Massa seolah diacuhkan padahal kedatangan mereka bertemu pemimpin Riau tersebut.

Dengan kondisi pagar tertutup, massa akhirnya memilih berorasi di luar kompleks sambil sesekali mengoyang pagar agar terbuka. Saat orasi, massa juga mengangkat poster yang intinya menolak prodok yang diproduksi Nestle dan Unilever.

Saat orasi, mereka pun meminta pemerintah mulai bertindak terhadap aksi boikot CPO. Mereka sangat menyayangkan sikap pemerintah yang justru diam saja saat produk dalam negeri di boikot oleh internasional. Pendemo pun meminta agar produk Yahudi dilarang masuk ke Indonesia sebagai balasan pemboikotan terhadap produk Indonesia. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved