Wayang Kulit Banjar Multi Fungsi
Wayang kulit Banjar biasa "ditanggap" untuk berbagai hajatan atau acara sehingga multi fungsi menyampaikan pesan.
Menurut tokoh seniman Kalsel, AW Sarbaini, pertunjukkan wayang kulit Banjar bisa ditampilkan pada beberapa acara seperti, perkawinan, sunatan, dan juga sebuah hajatan.
Untuk pertunjukkan pada acara perkawinan bisa dilakukan malam sebelum pernikahan, atau yang disebut walam wawayun. Dan bisa juga dilakukan malan hari usai melakukan resepsi pernikahan, atau yang disebut malam panganten.
"Wayang kulit Banjar biasanya ditampilkan pada acara pernikahan, sunatan, dan juga hajatan," ujar pendiri Sanggar Seni Tradisional Ading Bastari di Barikin, Kalsel.
Menurutnya, untuk acara pernikahan, pertunjukkannya bisa dilakukan pada malam wawayun, untuk menghibur tukang kawah (tukang masak nasi), dan tukang pendiri tenda. "Atau pada malam pangantennya," tambahnya.
Sesuai perkembangan zaman, cerita yang dipentaskan dalam wayang kulit Banjar saat ini dibagi menjadi dua. Ada yang ceritanya, sesuai dengan aslinya atau pakemnya. Misalnya cerita Mahabrata dan lain sebagainya dan juga cerita yang dibuat sendiri oleh dalangnya, untuk menyesuaikan dengan lingkungan.
"Kadang-kadang ada saja warga yang ingin dibawakan sebuah cerita yang berkaitan dengan isu-isu terhangat, yang sedang terjadi di sekitarnya," ujar Sarbaini.
Wayang kulit Banjar, juga dapat dijadikan sebagai sebuah media untuk menyampaikan pesan-pesan, yang berkaitan dengan kehidupan, pergaulan, dan juga lingkungan bagi para penontonnya. Dalam pertunjukkannya, juga ada mengandung unsur pendidikan.
"Pertunjukkan wayang kulit Banjar, merupakan media untuk menyampaikan pesan-pesan moral. Misalnya, bagaimana cara yang muda ketika berhadapan dengan yang lebih tua, dan sebaliknya," ujar pria yang pertama kali mengembangkan musik panting di Kalsel ini. (*)