Brunei dan Malaysia Bajak Penenun Songket Sambas
sudah banyak perajin kain tradisional Songket, hijrah ke negara tetangga, yaitu Brunei Darussalam dan Malaysia.
Editor:
Hasiolan Eko P Gultom

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Abdul Rozak
TRIBUNNEWS.COM, PONTIANAK - Budiana (41), perajin tenun songket dari Sambas, merasa sangat bangga bisa mengikuti ajang Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2011 yang digelar di Jakarta.
Keberangkatannya ke Jakarta, Selasa (5/7), difasilitasi oleh Garuda Indonesia. Meski bangga, Budiana tetap menyimpan kekhawatiran.
Budiana yang merupakan perajin mitra binaan PT Garuda Indonesia yang menjadi wakil Kalbar di ajang PPKI 2011, membawa puluhan lembar tenun songket yang memiliki motif dan karakteristik khusus.
Songket itu akan ia perkenalkan kepada seluruh pengunjung PPKI yang berasal dari dalam dan luar negeri.
Tebersit rasa haru di dalam hatinya. Bagaimana tidak, selama puluhan tahun menjadi perajin tenun songket, baru kali inilah dia mendapat kesempatan untuk ikut pameran.
Dan, tak tanggung-tanggung, pamerannya berlangsung di Jakarta, dan akan dikunjungi banyak orang. Padahal, selama ini, ia hanya menjual kain hasil karyanya di rumah yang juga menjadi pabrik pembuatan tenun.
PPKI 2011 merupakan ajang akbar bagi penggiat produk kreatif seantero Indonesia yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), 6-10 Juli 2011.
Dalam sepekan, ajang ini akan memamerkan ribuan produk kreatif dalam negeri, antara lain kerajinan, musik, tarian, home industry, dan lain sebagainya.
General Manager Garuda Pontianak, Wempie Ohoiwutun, tak bisa menutupi kekagumannya terhadap tenun songket khas Sambas. Poin plus dari tenun songket ini adalah nilai sejarah yang terkandung dari puluhan jenis motifnya.
"Motifnya masih asli dari China. Dibandingkan dengan kain songket dari Palembang dan Bali, songket dari Sambas memiliki nilai historikal kuat, yang lekat dengan kebudayaan Kalimantan Barat," ujarnya kepada Tribun di kantornya, Selasa (5/7).
Menurut Wempie, kain tersebut sangat layak untuk menjadi bagian dari warisan kebudayaan dunia, karena nilai sejarah yang besar yang terkandung di dalamnya.
Tenun songket, ujar Wempie, juga sangat potensial untuk menjadi seragam nasional Indonesia, selain batik.
Usaha tersebut harus dimulai dari pemerintah daerah, Pemkab Sambas. Di antaranya, dengan mewajibkan siswa sekolah, PNS, dan masyarakat menggunakan tenun songket minimal satu bulan sekali.
Melihat potensi besar tersebut, Garuda sangat tertarik untuk mewujudkan Corporate Social Responsibilty (CSR) kepada para perajin tenun songket.