Brunei dan Malaysia Bajak Penenun Songket Sambas
sudah banyak perajin kain tradisional Songket, hijrah ke negara tetangga, yaitu Brunei Darussalam dan Malaysia.
Editor:
Hasiolan Eko P Gultom

Di antaranya, dengan memberikan pelatihan dan pinjaman modal untuk pengembangan perajin di Sambas. Garuda juga memfaslitasi mitra binaannya, Budiana, untuk ikut ambil bagian dalam PPKI 2011.
Namun demikian, di balik optimisme yang mengemuka dari Wempie, ada sedikit kekhawatiran yang membuncah di dada Budiana.
Ia mengaku prihatin dan waswas, karena sudah banyak perajin kain tradisional tersebut hijrah ke negara tetangga, yaitu Brunei Darussalam dan Malaysia.
Bagi Budiana, hijrahnya puluhan perajin merupakan ancaman, yaitu hilangnya generasi penerus peajin tenun songket.
Dikhawatirkan pula, kain bernilai warisan budaya leluhur Sambas itu akan diakui oleh negara lain sebagai bagian dari budayanya.
"Di sana memang para perajin diberi upah lebih tinggi untuk membuat kain yang serupa," bebernya.
Menurut dia, adiknya yang pernah bekerja sebagai perajin songket di Brunei, menceritakan bahwa tenun songket di negara itu sudah menjadi pakaian resmi.
Misalnya, untuk acara pernikahan, ulangtahun raja, dan Salat Jumat pun penduduk di sana menggunakan kain tenun songket. Sehingga, dipastikan memerlukan banyak perajin. Nah, yang banyak direkrut adalah dari Sambas.
"Jika yang muda penerus kita diambil ke Brunei, maka di Sambas tinggallah kita yang sudah tua. Saya dan perajin lainya khawatir, kita tidak ada penerus. Padahal tenun songket ini sangat khas sekali dan masih asli," lanjutnya.
Budiaman menambahkan, harga jual per helai di Brunei jauh lebih tinggi dibandingkan di Kalbar ataupun Sambas. Di sana, satu helai dengan motif dan bahan tertentu bisa mencapai ribuan dolar Brunei.
Tenun songket yang sedang terancam eksistensi ini memiliki kekhasan tersendiri, dibandingkan dengan tenun lainnya. Di antaranya, motif yang masih asli, yaitu dari asalnya, China.
Motif-motif tersebut biasanya bertemakan alam, hewan, pegunungan, air, dan lain sebagainya.
Motif yang masih alami antara lain Tabur Awan, Tabur Bintang, Ketunjung dan Pucuk Rebung. Motif-motif tersebut merupakan refleksi dari alam sekitar.
Produksi tenun songket saat ini tetap mempertahankan cara tradisional dalam pembuatannya, yakni menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Sehingga, untuk satu lembar kain memerlukan waktu 2,5 bulan.
Itu hanya untuk proses penenunannya. Jika ditambahkan dengan pembuatan motif dan lain sebagainya, memerlukan waktu lebih lama.
"Harganya bervariasi, mulai dari ratusan ribu sampai tiga juta rupiah per helainya untuk yang paling mahal. Ini juga tergantung pemesanan. Banyak yang datang kerumah untuk dibuatkan tenun songket dengan motif menyesuaikan keinginan," terangnya.