Derita Bocah Dirawat Nonstop 2 Tahun
RS Borromeus Perbolehkan Pasien Ismi Pulang
Kondisi kesehatan Ismi Apriani Nurjanah telah stabil. Pihak Rumah Sakit Santo Borromeus membolehkannya pulang.
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG- Kondisi kesehatan Ismi Apriani Nurjanah atau biasa dipanggil Ismi, bocah usia 4 tahun, telah stabil. Pihak Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung, tempat perawatan selama 2,5 tahun terakhir pun membolehkannya pulang.
Demikian dikemukakan Kepala Sub-Seksi Humas RS Santo Borromeus Bandung, Elisabeth Lilis S kepada Tribun Jabar, Tribunnews.com Network. Menurut Elisabeth Lilis, kondisi kesehatan Ismi kini stabil. Bahkan sebenarnya pasien juga sudah cukup lama diperbolehkan pulang oleh dokter.
Namun pasien masih berada di ruang perawatan Irene RS Santo Borromeus. "Pasien stabil. Pasien sudah bisa pulang, tapi pasien masih ada di ruang Irene. Itu hak pasien," kata Lilis.
Meski sudah stabil, pasien masih terus mendapat pemeriksaan dari dokter. Kondisi pasien tetap dicek untuk memantau kesehatannya. Disinggung soal keinginan pihak keluarga dan pengacara keluarga untuk naik banding atas putusan Pengadilan Negeri Bandung yang memenangkan pihak rumah sakit, dan meminta RS Borromeus memberikan rekam medis, ia menegaskan hal tersebut sudah diserahkan kepada pihak pengacara rumah sakit.
Meski begitu, RS Borromeus bersiap bila memang pihak pengacara pasien akan menempuh langkah tersebut. "Tentang hal itu, mau tidak mau harus siap. Kami sudah serahkan kepada pengacara," ujarnya.
Kisah Ismi dimulai saat ia berusia satu tahun. Selama enam bulan, putri pasangan Ade Zulherman dan Ira Atmirawati ini sering mengalami panas yang tinggi. Ketika dibawa ke dokter, hasil pemeriksaan selalu menyatakan bahwa Ismi hanya menderita radang tenggorokan biasa.
Selain itu, memang ada kelenjar di leher sebelah kanan. Itu pula yang ingin diketahui ibu kandung Ismi, Ira, apakah kelenjar tersebut berbahaya atau tidak. Namun jawaban dokter hanya mengatakan bahwa, kelenjar yang ada pada anak kecil itu biasa.
Yang menjadi pertanyaan orang tua Ismi adalah mengapa setiap dua minggu sekali badan Ismi selalu panas dan kelenjar pun timbul lagi di leher yang sebelah kiri. Sampai akhirnya, usai Lebaran 2009, Ismi mengalami panas sangat tinggi, dan sempat dibawa ke dokter di Garut. Kebetulan, saat itu Ismi bersama orangtuanya sedang berada di Garut. Diagnosis dokter menyatakan Ismi kena radang otak.
Tanggal 26 September 2009, Ismi dibawa ke RS Borromeus, Bandung, karena mengalami panas tinggi hingga 43 derajat celsius, sehingga Ismi kejang-kejang. Setelah tiga hari di Borromeus, Ismi dinyatakan harus dioperasi.
Ternyata, setelah menjalani operasi, suhu badan tidak turun, masih tetap panas dan Ismi koma. Ismi berada di ICU selama kurang lebih 27 hari, dan akhirnya Ismi di pindahkan ke ruang isolasi dengan kondisi yang belum membaik.
Saat ini, di kepala Ismi tertanam pentil secara permanen untuk menyalurkan cairan yang berada di kepalanya untuk dikeluarkan ke lambung. Tulang leher Ismi lunak sehingga kepala Ismi tertengadah ke belakang dan tidak dapat berdiri tegak. Kedua kaki Ismi lumpuh, malah kaki kirinya bengkok. Berat badan Ismi sekarang 13 kg.
Orang tua Ismi yang hanya mengandalkan penghasilan sebagai pedagang kali lima dari berdagang ayam bakar "Rohmat 3 Garut" di Bandung, yang tentu saja tidak akan mampu membayar biaya pengobatan dan perawatan di RS Borromeus.
Ismi Apriani pun tergolek di ruang perawatan RS Borromeus selama 2,5 tahun. Keluarga menduga, kasus dugaan malpraktik yang disebabkan penanganan dokter membuatnya jadi bocah buta, tuli, dan tak berdaya.
Pihak keluarga pernah menggugat secara perdata kasus kelalaian ini ke pengadilan. Namun gugatan Rp 10 miliar itu kandas. Kini keluarga tengah menyiapkan banding. Sementara pihak rumah sakit menyatakan kondisi Ismi sudah stabil dan bisa pulang. Namun keluarga menolak, karena Ismi kini dalam keadaan buta, tuli, lumpuh. (tribun jabar/siti fatimah)