Jumat, 17 April 2026

Buah Lokal Tergantung Musim

buah-buahan yang semakin melonjak tidak dapat diterapkan terhadap pedagang buah.

Editor: Budi Prasetyo

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Steven Greatness

TRIBUNNEWS.COM , PONTIANAK - Pedagang buah di Kota Pontianak dan sekitarnya menilai peraturan menteri perdagangan untuk mengendalikan angka impor holtikultura khususnya buah-buahan yang semakin melonjak tidak dapat diterapkan terhadap pedagang buah.

Pedagang Buah, Lie Khiang, mengatakan, konsumen buah cenderung membeli dan konsumsi buah impor daripada buah lokal yang berasal dari Jawa maupun dari daerah yang ada di Kalbar. Alasannya buah lokal tidak banyak pilihan dan tergantung pada musim panen.

Ia menjelaskan, buah impor tidak tergantung pada musim karena selalu tersedia, serta memiliki banyak jenis atau variannya sehingga konsumen mempunyai banyak pilihan dan banyak rasa. Di antaranya seperti buah pear sedikitnya memiliki 10 jenis, demikian juga apel, anggur, dan buah lainnya.

"Oleh karena itu, konsumen lebih suka buah impor. Hal menarik lainnya, buah impor dikemas dengan rapi dan ukurannya rata-rata sama besar sehingga dari mutu dipercaya terjamin serta barangnya selalu ada, tidak terpengaruh musim," ujarnya.

Sementara buah lokal, biasanya tidak terseleksi dan tidak mulus serta tanpa ada kemasan sehingga tidak menarik dan rapi. Sedangkan dari segi harga tidak jauh berbeda antara buah lokan dengan impor. Kecuali jeruk lokal asal Tebas (Kalbar) masih diminati konsumen karena rasanya yang sesuai dengan selera masyarakat.

Senada dikatakan pedagang buah di Gajah Mada, Wang Yu, mengatakan buah lokal sangat tergantung pada musim panen, sedangkan buah impor selalu tersedia setiap waktu dan dari segi kuantitas juga tersedia dalam jumlah yang banyak.

Sementara dari segi harga dan rasa, menurut Wang Yu, cukup bersaing antara buah lokal dengan buah impor. "Kalau buah mana yang lebih enak, sangat tergantung selera konsumen. Buah lokal ada yang suka ada juga tidak, sama dengan buah impor tapi buah lokal jarang tersedia dan tergantung musiman. Sedangkan konsumen suka makannya rutin," ujarnya.

Ia mencontohkan, perbedaan buah lokal Kalbar dengan Jawa yaitu semangka. Menurutnya, konsumen lebih senang konsumsi semangka Jawa daripada Kalbar karena tidak ada bijinya. Hal yang sama juga terjadi pada buah lainnya antara buah lokal dengan buah yang didatangkan dari luar negeri.

Oleh karena itu, Wang Yu, menegaskan apabila buah impor dibatasi sedangkan persediaan buah lokal sangat tergantung dengan musim. Ia menilai kebijakan ini akan mematikan pengusaha buah, karena tidak akan mungkin pedagang menjual buah berdasarkan musim bukan rutinitas.

"Kami akan memilih berhenti berdagang buah, kalau tidak ada lagi buah impor yang bisa dijual. Karena buah lokal sangat tergantung pada musim dan kami bukan pedagang musiman," ujarnya. (sgt)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved