AJI Dirikan Sekolah Jurnalistik Raja Ali Haji
Sekolah Jurnalistik Raja Ali Haji (Sejarah) Batam akhirnya berdiri. Kehadiran Sejarah ini sebagai jawaban di tengah tingginya tuntutan media massa
TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Sekolah Jurnalistik Raja Ali Haji (Sejarah) Batam akhirnya berdiri. Kehadiran Sejarah ini sebagai jawaban di tengah tingginya tuntutan media massa terhadap profesionalisme jurnalis.
Di Kepri pada umumnya, sejumlah media massa kesulitan mencari jurnalis. Apalagi tingginya persaingan antarmedia, belum dibarengi dengan kompetensi jurnalis yang mumpuni.
Penyebabnya, minimnya pelatihan yang diberikan masing-masing media terhadap para calon jurnalisnya saat proses perekrutan.
"Kehadiran Sejarah ini sebagai bentuk jawaban dari kebutuhan di dunia pers yang kian tinggi dari segi standarisasi kompetensi jurnalis," ujar Kepala Sejarah Batam, Muhammad Zuhri, Senin (3/9/2012).
Nantinya Sejarah, kata Zuhri, memiliki program pelatihan atau kursus singkat terhadap para jurnalis dan calon jurnalis, termasuk membuka kelas khusus bagi masyarakat umum dan mahasiswa, yang tertarik bergelut di dunia jurnalis dan tulis menulis.
"Media massa tak lagi menjadi raja. Kini ada media sosial yang jauh lebih egaliter dan setiap orang bisa melaporkan setiap kejadian dalam hitungan detik. Selain itu setiap orang bisa menulis dan menjadi jurnalis, kendati tak menjadi jurnalis di media massa," ungkap Zuhri.
Selain itu, jurnalisme warga, atau lebih dikenal citizen jurnalism, juga sudah tak asing lagi di tengah masyarakat. Setiap warga bisa menjadi penulis. "Jadi sekolah ini bisa menjadi bekal untuk itu. Ini salah satu sasaran kita," papar Zuhri.
Sejarah lahir berafiliasi dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Batam. "AJI menjadi induk dari sekolah ini," imbuhnya.
Sekolah ini sengaja diberi nama Sekolah Jurnalistik Raja Ali Haji disingkat Sejarah, dan akan dilaunching 15 September 2012 di Ruko Kompleks Panbil Mall, Muka Kuning, Batam.
Di masa pelatihan, Zuhri mengatakan, peserta akan dibekali mengenai materi dasar-dasar jurnalistik, bagaimana menulis yang aman di media sosial, dan bagaimana menjadi seorang jurnalis warga berikut kode etiknya.
Pemberian nama Sejarah tak lepas dari sejarah Kepri dan nama besar penyair sekaligus penulis cikal bakal lahirnya Bahasa Indonesia, Raja Ali Haji.
Setidaknya, urai Zuhri, dengan memasukkan nama penulis syair Gurindam 12 itu, semangat yang ada sama dengan semangat yang ingin dimunculkan Raja Ali Haji ketika menulis syair-syairnya.
"Sekaligus dari sisi emosional nama ini lebih membumi dan memiliki ikatan emosional di tanah Melayu. Dan dalam menulis kita juga butuh susunan Bahasa Indonesia yang baik dan benar," jelasnya.
Sementara itu, jurnalis sekaligus anggota majelis etik AJI Batam, Muhammad Nur, menambahkan, dalam sekolah ini, kode etik menjadi salah satu materi penting dalam hal menulis.
Khusus untuk kelas jurnalis, utamanya bagi anggota AJI Batam ini juga menjadi pra Ujian Kompetensi Jurnalis (UKJ) yang akan digelar AJI Batam. "Tidak terkecuali bagi peserta dari umum dan mahasiswa," jelasnya.