Rabu, 8 April 2026

Pelajar Amerika Makan Nasi Tumpeng dan Pakai Kebaya

Mulai Rabu lalu, keluarga Roni Moektiono kedatangan anggota baru. Yaitu Sara Britton (16), pelajar asal Boise, Idaho

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Mulai Rabu lalu, keluarga Roni Moektiono kedatangan anggota baru. Yaitu Sara Britton (16), pelajar asal Boise, Idaho, Amerika Serikat (AS) yang menjadi peserta pertukaran pelajar Indonesia-AS. Sara menjadi pelajar yang duduk di kelas XI di SMAN 5 Surabaya.

Ketika didatangi di kediaman keluarga Roni di kawasan Manyar Indah 14, Sabtu (6/10/2012), Sara terlihat  mengenakan kebaya. Bersama rekannya sesama pelajar asal AS, Avery Grayson (18) yang juga mengenakan kebaya, Sara berdiri di depan tumpeng nasi kuning.

Santi Dwi, sang nyonya rumah, menjelaskan apa saja yang ada di dalam tumpeng itu dalam bahasa Inggris. Sara dan  Avery terlihat menyimak dan manggut-manggut.

Begitu Santi selesai menjelaskan, Sara langsung menunjuk perkedel, dan mengatakan siap memakannya.

“Karena di daerah asli saya dikenal sebagai penghasil kentang. Kelihatannya saya akan suka itu,” komentarnya dalam bahasa Inggris.

Kebaya yang dikenakan Sara dan Avery ini merupakan pilihan mereka sendiri. Sara memilih kebaya warna abu-abu yang penuh aksen payet. Sementara Avery memilih kebaya warna hijau.

Meski rambutnya ditata sederhana, rambut Sara diurai mirip model rambut Lady Di, dan Avery dikepang, keduanya tampak nyaman berkebaya.

Keluarga Roni berhasil terpilih menjadi orangtua asuh pelajar AS peserta pertukaran pelajar Indonesia-AS, setelah sebelumnya lolos tes dan seleksi.

Ketika ada informasi dari sebuah lembaga penyelenggara pertukaran pelajar Indonesia-AS di Surabaya, Santi iseng-iseng mendaftar.

Setelah mendaftar, mereka diminta mengisi formulir dan sekaligus disurvei. Dalam formulir itu, orangtua asuh dan keluarga, harus orang yang tidak rasis. Memiliki hubungan keluarga yang positif, dan tempat tinggal yang layak dari segi fungsi maupun kebersihannya.

“Saya dan keluarga dianggap memiliki, salah satunya karena rumah kami yang memang kami bentuk Indonesia sekali,” ungkap Santi.

Memang bila dilihat, semua bagian yang ada di rumah Santi penuh dengan benda etnik khas Indonesia. Mulai gebyok, hiasan dinding, lukisan, dan lain sebagainya. Santi dan keluarga memiliki pengetahuan sejarah dan ilmu pengetahuan budaya dan alam Indonesia yang besar. Mengingat Santi pernah menjabat sebagai General Manager Distrik maskapai penerbangan Sempati Air yang sudah tutup tahun 1997 lalu.

Meski baru dua minggu, Sara mengaku cukup nyaman tinggal bersama keluarga Roni. Tiap hari, dia belajar makan nasi. Sementara di tempat tinggalnya, hampir tidak pernah makan nasi.
Juga harus bangun lebih pagi, karena jam masuk sekolah yang lebih awal dibanding kebiasaannya di AS.

“Kalau di sekolah saya dulu, masuk sekitar jam 07.30. Kalau disini, saya jam 05.00 WIB, sudah harus bangun,” ungkap
Sara yang mengaku tertarik untuk menekuni dunia jurnalistik setelah lulus SMA dan kuliah mendatang.

Mengaku baru pertama kali pergi dan tinggal di luar AS, Sara mengaku mendapat dukungaan orangtuanya. Terutama dari sang ibu. Santi dan ibu Sara, Keth Britton, juga intes berkomunikasi lewat email untuk saling berbagi kabar tentang Sara.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved