Sabtu, 16 Mei 2026

Pengakuan Mantan Mujahid

'Anakku Tidak Akan Jadi Teroris'

Para mujahid (pejuang Islam) di Jawa Timur merasa tertekan dengan stigma di masyarakat bahwa semua mujahid adalah teroris

Tayang:
Editor: Hendra Gunawan

TRIBUNNEWS.COM, LAMONGAN  - Para mujahid (pejuang Islam) di Jawa Timur merasa tertekan dengan stigma di masyarakat bahwa semua mujahid adalah teroris. Itu yang mereka alami setiap kali ada serangan bom di Tanah Air, tak terkecuali saat terjadi bom bunuh diri Mapolres Poso beberapa hari lalu.

“Setiap ada bom meledak, pandangan masyarakat mengarah ke kami, para mujahid ini. Meskipun kami tidak terlibat, tuduhan sebagai pelaku teror telanjur melekat. Tidak terkecuali ketika bom bunuh diri meledak di Mapolres Poso,” kata Ali Fauzi, adik terpidana mati kasus Bom Bali I Amrozi dan Mukhlas, kepada Surya, Rabu (5/6/2013).

Satu lagi saudara Ali Fauzi yang terlibat Bom Bali adalah Ali Imron yang kini masih meringkuk di Lapas Kerobokan, Bali.

Pria asal Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan itu mengaku tuduhan sebagai pelaku teror selalu mengiringi kehidupannya. Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI) tersebut makin risau jika tuduhan itu disematkan juga pada anak dan keluarganya.

Ali Fauzi (40) adalah mantan panglima perang selama konflik di Poso dan Ambon. Ali Fauzi juga dikenal sebagai salah satu instruktur pembuat bom, jebolan Mindanao, Filipina.

Anak pertama Ali Fauzi, Adhan Mahdi (14), mengakui tidak mudah menyandang predikat sebagai anak seorang mujahid. Terlebih, dia memliki paman yang menjadi trio sentral di balik serangan Bom Bali, yakni Amrozi, Mukhlas, dan Ali Imron.

”Saya sering ditanya-tanya teman kalau lagi ramai-ramai nonton liputan tentang bom di televisi. Ya saya jawab setahu saya saja,” kata remaja yang baru saja menuntaskan pendidikan di SMP Ponpes Yayasan Pendidikan Islam, Klaten, Jawa Tengah.

Setiap kali Ali Fauzi diwawancarai stasiun televisi, Adhan harus meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan dari teman-temannya tentang sosok sang ayah. ”Saya katakan saja, ayah saya itu pembuat bom,” ujarnya sembari tertawa kecil.

Adhan merasa pertanyaan teman-teman sejauh ini tidak sampai mengganggu. Ia pun tidak pernah membatasi diri bergaul dengan siapa saja, termasuk anak-anak yang beda keyakinan dengannya.

Menurut Ali Fauzi, ia pun tidak melarang anaknya mengenal dunia luar. Dia tidak ingin anaknya menjadi sosok eksklusif karena riwayat perjuangan ayah dan ketiga pamannya. Malah, Ali Fauzi mendorong Adhan lebih banyak berinteraksi dengan dunia luar. ”Tidak masalah bergaul dengan warga NU, Muhamadiyah sampai yang nonmuslim sekalipun,” tutur pria yang menyandang gelar master dari Universitas Muhamadiyah Surabaya itu.

Ali Fauzi memilih menyekolahkan Adhan ke sekolah di lingkungan pondak pesantren, bukan berarti ia memaksa anaknya menjadi mujahid. Rencananya, Adhan akan melanjutkan pendidikan menengah atasnya di ponpes yang ada di Jawa Tengah milik rekan alumnus Universitas Al-Azhar Mesir. ”Belajar di ponpes biar karakter mereka terbentuk dulu. Baru setelah itu, mereka bisa memilih jalan hidup,” kata Ali Fauzi. ”Yang terpenting, saya akan mendidik anakku menjadi mujahid, bukan teroris,” tegasnya.

Selain Adhan, Ali Fauzi juga mememiliki empat anak lain yakni Jundu Robbi (10), Thoriq Amin (7), Aisyah Aini (6) dan Izzah Syahidah (2).

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved