Eko Kirim Pulsa Rp 900 Ribu ke Polisi Gadungan
Eko Priyono (25), warga Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah, kaget saat ditelepon orang yang mengaku perwira di Polres Kendal.
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Muh Radlis
TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG - Eko Priyono (25), warga Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah, kaget saat ditelepon orang yang mengaku perwira di Polres Kendal.
Sebab, orang tersebut mengaku sebagai Kasatlantas Polres Kendal, dan berkata akan menahan seorang kerabatnya yang bernama Aris (24), lantaran melanggar lalu lintas.
"Orang itu bilang akan memenjarakan Aris karena melanggar lalu lintas, dan motor yang digunakan adalah motor curian. Dia mengaku Kasatlantas Polres Kendal berpangkat AKBP," tutur Eko ketika ditemui Tribun Jateng (Tribun Network) di Ruang SPKT Polrestabes Semarang, Jumat (12/7/2013).
Saat Eko sedang bekerja di daerah Ungaran, Kamis (11/7/2013), sekitar pukul 10.00 WIB, tiba tiba dia mendapat telepon yang mengabarkan kerabatnya ditilang di daerah Kendal.
"Menurut orang itu, Aris ditilang karena tidak dapat menunjukkan surat-surat kendaraan," jelas Eko.
Begitu tahu kerabatnya mengalami kejadian tersebut, Eko mengaku panik dan iba Aris. Eko lantas menanyakan jalan yang harus ditempuh agar kerabatnya bisa bebas dari hukuman.
"Ada saudara saya bernama Aris tinggal di Kendal, dan waktu itu saya percaya saja. Saya sudah panik, dan kasihan sama Aris," ujarnya.
Keyakinan Eko semakin kuat ketika diperdengarkan suara laki laki yang mengaku sebagai kerabatnya, oleh sang pelaku.
"Ada suara laki laki, memang mirip suara Aris, tapi saya tidak tau apakah itu Aris atau bukan," jelasnya.
Eko memaparkan, saat itu dia berniat mendatangi Mapolres Kendal untuk bertemu langsung dengan Aris. Namun, si polisi gadungan tidak mengizinkan dengan alasan itu masalah intern, dan bisa diselesaikan secara kekeluargan.
"Asal saya memberi uang Rp 300 ribu sebagai tebusan," ungkapnya.
Mendengar syarat tersebut, Eko pun menanyakan langkah apa yang harus ia lakukan, agar bisa segera menyerahkan uang kepada polisi gadungan.
"Dia (pelaku) memberi tiga nomor handphone yang berbeda. Saya diminta mengisi pulsa, tiap nomornya Rp 100 ribu," beber Eko.
Tanpa berpikir panjang, Eko pun mengiyakan permintaan tersebut, dan segera menghampiri minimarket yang terletak tak jauh dari posisi Eko.