Minggu, 26 April 2026

Empat Jenderal Malaysia Sedih Lihat Kondisi Candi Muara Takus

Candi Muara Takus, terus mengalami penurunan nilai budaya dan sejarah yang terkandung di dalamnya.

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru Nando

TRIBUNNEWS.COM, BANGKINANG - Candi Muara Takus, terus mengalami penurunan nilai budaya dan sejarah yang terkandung di dalamnya.

Minim perhatian pemerintah dan terkesan kurang terawat. Buktinya, stupa yang dahulu ada 20 buah. Namun, kini sudah tinggal tiga buah saja.

Tak diketahui pasti ke mana perginya. Apakah diambil secara diam-diam atau rusak. Lantas kalau dicuri, apa upaya yang telah dilakukan untuk mencari keberadaan 17 tempat penyimpanan abu para tokoh peradaban candi tersebut.

Fakta dan beberapa pertanyaan itu, menjadi pokok bahasan dari empat jenderal dari Kerajaan Malaysia ketika mengunjungi Kompleks Candi Muara Takus di Kecamatan XIII Koto Kampar pada Jumat (6/12/2013) lalu.

"Keempat jenderal itu sudah purna dari tugasnya atau purnawirawan," ujar Abdul Latief Hasym, seorang pemerhati sejarah dan pecinta barang-barang antik, Selasa (10/12/2013).

Keempat jenderal purnawirawan itu bernama Letnan Jenderal Dato' Abdul Aziz Hassan, Mejor Jenderal Dato' Aabdullah Ghani, Brigadir Jenderal Dato' Hashim Haji Abu dan Mejor Jenderal Dato' Amir Baharudin. Mereka berkeliling dan mengamati seluruh bagian candi.

Latief, ikut mendampingi kedatangan keempat jenderal tersebut. Menurutnya, kedatangan keempat jenderal adalah untuk memperkuat silaturahmi dengan Kampar.

Dengan adanya Candi Muara Takus di Kampar, mereka meyakini bahwa Raja Pertama Malaysia atau Malaka adalah Keturunan Kerajaan Sriwijaya.

Raja itu bernama Prameswara yang lahir pada akhir abad XIV sampai pada penyerangan tentara Portugis tahun 1511. Candi Muara Takus adalah saksi paling nyata peninggalan Kerajaan Sriwijaya di wilayah Kampar.

Stupa dari pentolan dan tokoh kerajaan disimpan di Candi tertua di Asia Tenggara tersebut. "Menurut Profesor Izerman dan Grunevel, peneliti dari Belanda, dulu jumlah stupa yang ada di Candi Muara Takus berjumlah dua puluh buah. Sekarang tersisa hanya tiga saja lagi," ungkap Latief.

Amir Baharuddin, satu dari keempat purnawirawan militer Negeri Jiran itu, mengaku miris dengan kondisi Candi Muara Takus saat ini. Padahal, kata dia, Candi itu merupakan jati diri Kampar sendiri sebagai salah salah satu pusat peradaban di dunia.

"Kampar harus mendapatkan jati dirinya. Sehingga akan muncul keinginan untuk memelihara Candi ini," ujar Amir saat ditanya tanggapannya terhadap hilangnya stupa di Candi Muara Takus. "Itu tergantung Kamparnya sendiri," imbuhnya.

Amir merasa sangat perlu dilakukan penggalian nilai sejarah dan budaya lebih mendalam yang terkandung dalam candi. Sehingga, rasa kedekatan terhadap candi semakin kuat.

Munculnya niat Amir beserta rekan seperjuangan untuk mengunjungi Candi Muara Takus, berawal dari diskusi lepas. Di antara mereka memiliki keinginan untuk mengetahui asal usul Raja mereka.

Halaman 1/2
Tags
Pekanbaru
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved