Rabu, 15 April 2026

Mayoritas Warga Papua di Distrik Muara Tami Pandai Berbahasa Jawa

Begitu masuk desa ini, percakapan yang acapkali terdengar bukan bahasa lokal setempat, tapi bahasa Jawa

Tribunnews.com/Agung Budi Santoso
Ibu-ibu warga asli Papua maupun warga asal Jawa berbaur di halaman Kelurahan Koya Barat. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Agung Budi Santoso

TRIBUNNEWS.COM, JAYAPURA - Namanya Kelurahan Koya Barat, lokasinya di Distrik Muara Tami, sekitar satu jam perjalanan dari Kota Jayapura, Papua.

Begitu masuk desa ini, percakapan yang acapkali terdengar bukan bahasa lokal setempat, tapi bahasa Jawa. Warga berbelanja dan menawar harga sayur mayur berbahasa Jawa. Anak-anak kecil berjalan kaki menuju sekolah bersama teman-teman sebayanya juga ngobrol dan bercanda pakai bahasa Jawa.

Di seberang kantor Kelurahan Koya Barat malah ada warung soto Lamongan.

"Saya orang Papua asli, tapi nggak bisa bahasa Papua. Bisanya bahasa Jawa. Soalnya suami orang Jawa," kata Sopia Ayomi (40), kepada Tribunnews.com.

Sopia dari kecil sampai berumahtangga tinggal di kawasan Koya Barat yang mayoritas pendatang dari Jawa. Ia bersuami transmigran asal Purwokerto, Jawa Tengah.

"Sak bendino ngomonge karo bojoku boso Jowo, yo isone boso Jowo (tiap hari ngobrolnya bahasa Jawa dengan suami, ya bisanya Bahasa Jawa)," kata Sopia.

Sopia tak sendiri. Martina Haay, wanita Papua asli, juga menikah dengan pria asal Trenggalek, Jawa Timur. Dari pernikahan itu ia dikaruniai tiga orang anak.

Sementara Sunarsih (35), transmigran asal Ponorogo, Jawa Timur, juga tak bisa berbahasa lokal Papua meski sudah tinggal bertahun-tahun di Koya Barat.

"Susah belajar bahasa Papua. Lain suku saja sudah beda bahasanya," kata Sunarsih.

Meski terjadi pembauran antara Jawa dan penduduk asli Papua, tidak tampak ada kesenjangan. Justru sebaliknya mereka amat kompak, termasuk dalam menghadapi risiko bencana khususnya ancaman banjir.

Puluhan warga setempat bergabung dengan LSM Oxfam membentuk Tim Siaga Bencana Kelurahan (TSBK). Mereka mendapat pelatihan mengevakuasi korban yang terjebak banjir, menolong korban reruntuhan, membangun tenda darurat, menyiapkan logistik secara cepat.

"Kami memang digembleng oleh Oxfam untuk selalu siaga bencana. Meminimalkan risikonya, " kata Lurah Koya Barat, Reuter Sabarofex.

Beberapa kali dilanda banjir besar membuat desa ini siaga bencana. Terakhir terjadi pada 2011 silam.

"Satu RW tenggelam," kisah Surono, Ketua TSBK Koya Barat.

Halaman 1/2
Tags
Papua
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved