Gunung Kelud Meletus

Pasca Erupsi Kelud, Penjual Jasa Pembersihan Atap Marak

Banyaknya rumah yang atapnya dipenuhi abu vulkanis muntahan erupsi Gunung Kelud, menjadi peluang usaha bagi sekelompok orang.

Pasca Erupsi Kelud, Penjual Jasa Pembersihan Atap Marak
Kompas.com/M.Agus Fauzul Hakim
Seorang penjual jasa bersih atap saat menjalankan jasanya membersihkan atap rumah warga dari abu vulkanik erupsi Gunung Kelud, Selasa (25/2/2014). Jasa pembersih atap mulai marak usai erupsi Kelud 13 Februari 2014 lalu. Baca juga 


  

TRIBUNNEWS.COM KEDIRI,  - Banyaknya rumah yang atapnya dipenuhi abu vulkanis muntahan erupsi Gunung Kelud, menjadi peluang usaha bagi sekelompok orang. Mereka membuka usaha jasa pembersihan atap rumah.

Seperti yang dilakukan oleh Budi (35), warga Kota Kediri, Jawa Timur ini. Pasca-erupsi Kelud 13 Februari 2014 lalu, dia sudah melayani pembersihan atap belasan rumah.

Budi menjalankan usahanya itu seorang diri dengan didukung beberapa peralatan seperti tangga, sapu, pipa paralon, serta selang air.

Selain itu, ada juga peralatan yang dia buat khusus untuk memperlancar pekerjaannya, yaitu alat garuk dari kayu yang ukurannya disesuaikan dengan lekuk genteng maupun asbes.

Budi mempunyai beberapa alat garuk hasil modifikasinya itu. Dengan peralatan sederhana tersebut, ia dapat leluasa membersihkan atap rumah.

Waktu pengerjaannya tergantung besar kecilnya rumah yang dibersihkan. Untuk ukuran rumah seluas 36 meter, ia mampu mengerjakannya dalam waktu kurang dari sehari.

Upah jasa pembersihan atap juga bervariasi, dihitung berdasarkan tingkat kesulitan. Rata-rata membersihkan atap rumah tipe 36, ia menarif Rp 450.000. Sedangkan untuk rumah besar atau bertingkat, ongkosnya bisa mencapai jutaan rupiah.

"Pemilik tahunya sudah bersih atapnya dan bersih abu yang jatuh di bawahnya," kata Budi, Selasa (25/2/2014).

Para pemilik rumah juga tidak perlu menyiapkan makan untuknya. Uang makan sudah dimasukkan ke upah. "Kalau cemilan sih terserah yang punya rumah," katanya.

Halaman
12
Editor: Budi Prasetyo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved