Kamis, 23 April 2026

Produksi Tandan Buah Segar Sawit Jambi Turun 20 Persen

Produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Jambi mengalami penurunan sekitar 20 persen.

Editor: Budi Prasetyo

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Jambi mengalami penurunan sekitar 20 persen. Keterangan yang disampaikan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Jambi, ini disebabkan minimnya curah hujan di daerah penghasil buah sawit menjadi penyebabnya.

"Produksi menurun sekitar 20 persen karena cuaca kurang baik. Berbeda dengan karet yang tidak perlu banyak hujan," jelas Ketua Apkasindo Jambi, Roy Asnawi, kepada Tribun, Kamis (6/11/2014).

Menurut Apkasindo dari sekitar 589.380 hektare luas lahan sawit Jambi, baik milik petani plasma maupun swadaya, rerata produksi sawit 1,3 juta ton per tahun. Bila kondisi produksi menurun, diprediksi target produksi akan mengalami penurunan dibawah 1 juta ton pertahun.

Sementara sisi positif di tengah menurunnya produksi, harga TBS Jambi yang ditetapkan tim Pojka naik tipis dari kondisi sebelumnya. Data yang disampaikan Kabid Pengolahan dan Pemasaran hasil perkebunan Disbun Provinsi Jambi, Putri Rainun, harga TBS umur tanaman 10-20 tathun naik dari Rp 1.635 menjadi Rp 1,684 per kilogram.

Sedangkan CPO juga naik sekitar Rp 300 per kilogram, dari Rp 7,460 menjadi Rp 7,777 per kg. Diprediksikan beberapa minggu ke depan ada kecendrungan kenaikan harga mengikuti permintaan di pasaran global.

Namun demikian menurut Apkasindo yang disampaikan Roy Asnawi, di tingkat petani memang disparitas harga masih terjadi antara petani swadaya dengan petani plasma saat penjualannya ke tingkat perusahaan. Dia bilang petani swadaya yang memiliki 60 persen sawit Jambi, harga TBS lebih murah Rp 200 dibanding sawit plasma.

Perusahaan menganggap kualitas sawit plasma renemdennya lebih tinggi sedikit dibanding yang plasma. Hingga Apkasindo sendiri telah mengimbau petani swadaya menanam sawit dari bibit yang bersertifikat.

"Yang dari kebun sawit swadaya kadang-kadang pabrik membeli harga di bawah ketetapan tim Pojka. Perbedaan harga dikisaran Rp 200 per kilogram. Kalau dulu sampai Rp 400, lebih tinggi yang plasma. Padahal kadang banyak juga sawit swadaya yang berkualitas," ungkapnya.

Apkasindo Jambi berharap adanya pertemuan antara pemerintah, Gapki, dan Apkasindo supaya ada kesamaan dalam penetapkan harga, serta dalam menghitung harga pokok yang kadang-kadang antara satu perusahaan dengan perusahaan lain tidak sama.  (baca : Baru Lima Perkebunan Sawit di Jambi Bersertifikat ISPO )

Sumber: Tribun Jambi
Tags
Sawit
Jambi
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved