Kata Dedi Mulyadi soal Upaya Pemprov DKI Basmi Ikan Sapu-Sapu, Tak Cukup Ditangkap
Dedi Mulyadi kritik langkah DKI basmi ikan sapu-sapu, soroti kualitas air sungai sebagai akar masalah.
Ringkasan Berita:
- Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menilai upaya Pemprov DKI membasmi ikan sapu-sapu tak cukup hanya dengan penangkapan.
- Ia menekankan perbaikan kualitas air agar ikan endemik bisa kembali hidup dan menekan dominasi sapu-sapu.
- KKP menyiapkan revisi aturan pengendalian, sementara pakar menyoroti lemahnya pengelolaan limbah
TRIBUNNEWS.COM - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyoroti langkah Pemprov DKI Jakarta membasmi ikan sapu-sapu di sungai.
Menurut dia, penanganan ikan sapu-sapu tidak cukup hanya dengan menangkap di sungai.
"Jadi kalau ingin menghilangkan sapu-sapu ada dua hal: pertama sapu-sapunya harus diangkat, kedua kualitas airnya harus diperbaiki agar ikan-ikan endemiknya hidup lagi," ucapnya di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (22/4/2026).
Apabila kualitas air sungai membaik, ikan-ikan endemik akan kembali berkembang dan mampu menyaingi dominasi ikan sapu-sapu.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menggencarkan operasi penangkapan ikan sapu-sapu yang dianggap merusak ekosistem perairan.
Dalam sehari, Jumat (17/4/2026), sebanyak 68.880 ekor ikan invasif dengan total berat 6,9 ton berhasil ditangkap di lima wilayah Jakarta.
Hasil tangkapan terbesar berasal dari Jakarta Selatan, yakni 63.600 ekor dengan berat 5,3 ton.
Penangkapan dilakukan di kawasan Pintu Air Outlet Setu Babakan, Jagakarsa.
Di Jakarta Timur, tercatat 4.128 ekor dengan berat 825,5 kg, sementara di Jakarta Pusat 536 ekor dengan berat 565 kg. Jakarta Utara menyumbang 545 ekor dengan berat 271 kg, dan Jakarta Barat 71 ekor dengan berat 17 kg.
Baca juga: Pemkot Jaksel Kaji Ikan Sapu-Sapu Dimanfaatkan Jadi Pakan Ternak, Bakal Libatkan Berbagai Pihak
Dedi Mulyadi mengungkapkan kemunculan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar di berbagai sungai dinilai sebagai sinyal serius menurunnya kualitas air.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan ekosistem sungai sedang tidak sehat.
“Sapu-sapu untuk seluruh daerah ya ambil saja, tangkap saja. Sapu-sapu itu tumbuh manakala sungainya sudah mengalami penurunan kualitas,” ujarnya.
Dia menjelaskan ikan sapu-sapu cenderung berkembang pesat di perairan yang telah tercemar.
Hal ini terjadi karena ikan tersebut mampu bertahan dalam kondisi air yang buruk, berbeda dengan ikan endemik yang membutuhkan kualitas air bersih.
Ketika kualitas air menurun, ikan-ikan lokal tidak lagi mampu bertahan dan perlahan menghilang. Situasi ini membuat populasi sapu-sapu mendominasi sungai.