Kamis, 30 April 2026

Mucikari Ini Senang Pemerintah Tutup Lokalisasi Kalikudu

"Justru kalau ini ditutup, saya malah terima kasih. Saya tidak apa-apa. Dari pada ditempati anak sedikit," ujar Sutrisno saat ditemui wartawan Surya.

Tayang:
Editor: Y Gustaman
Surya/Iksan Fauzi
ALIH FUNGSI - Karaoke live music merupakan salah satu fasilitas bangunan di kawasan Lokalisasi Kalikudu Kecamatan Pujon. Gambar diambil Senin (24/11/2014). 

Laporan Wartawan Surya, Iksan Fauzi

TRIBUNNEWS.COM, BATU - Alih-alih kecewa sumber ekonominya ditutup, Sutrisno malah senang. Mucikari ini mengaku senang Pemerintah Kabupaten Malang menutup Lokalisasi Kalikudu di Dusun Maron.

Lokalisasi yang dibangun istrinya tahun 2011 itu kini justru berubah menjadi penginapan dengan sekitar 100 kamar. Sutrisno mengaku akan mengembangkan rumahnya yang kini masih berbentuk rumah tinggal para PSK.

"Justru kalau ini ditutup, saya malah terima kasih. Saya tidak apa-apa. Dari pada ditempati anak sedikit," ujar Sutrisno saat ditemui wartawan Surya di lokalisasi Kalikudu, Senin (24/11/2014).

Dari cerita mulut ke mulut, lokalisasi ini sudah ada sejak jaman penjajahan. Pada 1992, ia mengikuti istrinya mengelola lokalisasi. Ia memiliki 10 PSK yang usianya di atas 40 tahun.

Sutrisno sudah tak memberi apa-apa kepada anak buahnya. Mereka masih senang karena PSK Sutrisno rata-rata sudah ikut sekitar 20-an tahun. Kepada mereka, Sutrisno menyarankan agar pulang ke kampung halamannya.

Ia tidak berpikir merekrut bekas anak buahnya itu sebagai pegawai lantaran penginapannya belum jalan. "Keluarga saya banyak menganggur. Kalau satu dua orang mungkin, tapi tidak semuanya," terangnya.

Lokalisasi Kalikudu berdiri di atas lahan seluas 3.000 meter persegi. Kawasan itu sekitar 500 meter dari selatan Pasar Pujon. Dari kejauhan, bangunan megah warna oranye mirip hotel memiliki sekitar 100 unit kamar.

Di depan gedung megah tersebut terdapat rumah-rumah bordil, tempat PSK menjajakan jasa kepada laki-laki hidung belang. Tak banyak rumah penduduk di sana, hanya beberapa berdiri warung kopi dan laundry.

Kini, salah satu kawasan lokalisasi terkenal di Malang Raya itu ditutup oleh Pemkab Malang sejak Senin (24/11/2014). Sebanyak 31 PSK pun menolak pulang jika Pemkab tidak memberi kompensasi penutupan.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved