Warga Sidrap Sulsel Olah Ikan Sapu-sapu Sebagai Penghasilan Baru, Begini Caranya
Warga Desa Mojong, Kecamatan Watang Sidenreng, memilih mengola ikan sapu-sapu sebagai sumber penghasilan baru.
Ringkasan Berita:
- Pemprov DKI memusnahkan ikan sapu-sapu karena berbahaya, namun di Sidrap justru dimanfaatkan sebagai peluang bisnis.
- Warga mengolah ikan menjadi pakan bebek, tangkapan mencapai dua ton per hari, meningkatkan pendapatan masyarakat.
- Meski bernilai ekonomi, ikan ini berbahaya dikonsumsi karena mengandung bakteri dan logam berat beracun.
TRIBUNNEWS.COM, SIDRAP - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini sedang gencarnya memusnahkan ikan sapu-sapu karena dianggap berbahaya bagi ekosistem.
Sementara itu di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel), ikan sapu-sapu menjadi peluang bisnis baru.
Jarak Sidrap ke Makassar sekitar 219 Km, bisa ditempuh perjalanan darat selama 4 jam.
Warga Desa Mojong, Kecamatan Watang Sidenreng, memilih mengola ikan sapu-sapu sebagai sumber penghasilan baru.
Ikan dimanfaatkan sebagai bahan utama pakan ternak bebek.
Seorang nelayan, Muhammad Abu Rizal, mengungkapkan bahwa hasil tangkapan ikan sapu-sapu dari danau bisa mencapai hingga 2 ton per hari.
Pemanfaatan ini turut meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Ikan sapu-sapu yang diambil dari danau bisa mencapai 2 ton per hari,” ujarnya.
Ikan sapu-sapu dicampur dengan eceng gondok, jagung, serta sedikit dedak.
Campuran tersebut kemudian dijadikan pakan untuk ternak bebek milik warga.
Pemanfaatan ikan yang sebelumnya dianggap hama ini kini menjadi solusi ekonomi sekaligus membantu pengelolaan lingkungan di wilayah tersebut.
Baca juga: Kata Dedi Mulyadi soal Upaya Pemprov DKI Basmi Ikan Sapu-Sapu, Tak Cukup Ditangkap
Bahaya Konsumsi Ikan Sapu-sapu
Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, memberikan peringatan keras kepada warga mengenai bahaya penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan olahan makanan seperti siomay.
Peringatan ini disampaikan di sela aksi penyisiran massal ikan invasif tersebut di Saluran Cideng, yang tepat berada di samping Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (17/4/2026).
Arifin mengungkapkan, salah satu pemicu oknum nakal menggunakan ikan sapu-sapu untuk bahan siomay adalah harganya yang sangat murah, yakni di kisaran Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/PEMBERANTASAN-IKAN-SAPU-SAPU.jpg)