Perampok Rp 10,4 M di Mamuju Spesialis Rampok "Sawit" asal Lampung
Tim Penyidik dari Reserse dan Kriminal Polres Mamuju Utara (Matra), Sulawesi Barat (Sulbar), terus mendalami kasus perampokan uang senilai Rp 10,4 M
TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Tim Penyidik dari Reserse dan Kriminal Polres Mamuju Utara (Matra), Sulawesi Barat (Sulbar), terus mendalami kasus perampokan uang senilai Rp 10,4 Miliar dari brankas bendahara perusahaan pengolahan crude palm oil (CPO) PT Surya Raya Lestari I di Desa Lambaloka, Kecamatan Serudu, Matra, Sulbar.
Dengan nominal rampokan Rp 10,410.042.000, Kapolres Matra AKBP Raspani mengkonfirmasikan inilah perampokan uang kas terbesar yang terungkap di Sulawesi yang pernah tertangkap.
Hingga Jumat (12/12/2014) sore, dua dari empat tersangka utama masih terus diinterogasi dan diperiksa parsial di Mapolres Matra, Jl Ir Soekarno, Pasangkayu.
Kota ini berjarak sekitar 276 km utara Kota Mamuju, ibu kota Sulbar, atau 719 km sebelah utara Makassar, ibu kota Sulsel.
Mereka yang diperiksa adalah Senyur alias Amak Uncik bin Rewed (43), dan Amran bin Padran (33).
Sedangkan dua lainnya, M Nasir dan lelaki Pucuk, hingga petang kemarin, masih buron. Nasir (51), diidentifikasi perantau asal Bugis di Palu, sekaligus inisiator dan bos perampok.
Dari pemeriksaan Amran bin Padran (33), terungkap, ini adalah operasi perampokan keduanya di Sulawesi (Mamuju, Sulbar dan Donggala, Sulteng) setelah dia mulai menetap di Palu, Sulteng setahun lalu.
Di Donggala, Amran juga mengaku merampok uang kas petani sawit sebesar Rp 100 juta.
Amran adalah pria kelahiran Kelurahan Beringin Jaya, Kamiling, Bandar Lampung. Di Palu, dia menetap di rumah kontrakan Jl Karamba Lembah Rt 018/Rw 004, Kelurahan Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, sekitar 4 km dari pusat Kota Palu, Sulteng.
Dari keterangan sementara ini, Kapolres tak menampik kemungkinan jaringan perampok besar asal Bandar Lampung, yang sering beroperasi di lahan perkebunan inti plasma di Sumatera dan di kota-kota besar di Jawa, sudah masuk ke Sulawesi.
Di Mamuju dan Pasangkayu, sendiri nyaris setiap bulan ada kabar aksi perampokan uang kas nasabah bank dan petani sawit suai menerima uang kas pembelian bungkil sawit. (lihat Infografis, Aksi Rampok di Tambang Sawit)
Maraknya aksi pencuroian dengan kekerasan dan pemberatan ini, karena mayoritas petani tidak transaksi di bank dan lebih senang menerima uang kas dari perusahaan CPO, inti plasma yang dibagi ketua kelompok tani.
Sekadar diketahui, Mei 2014 lalu, empat 4 kriminalis spesialis nasabah perampok nasabah bank dan uang kas petani sawit asal Lampung, ditembak aparat di Pangkalan Bun, Ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Mereka adalah Beni Irawan, Hartoni, Andi Sudirman dan Yazid.
Polisi di Mamuju Utara dan jajaran penyidik di Polda Sulsebar di Makassar juga masih terus berkoordinasi linta Polda untuk mengungkap jaringan perampok khas ini.
Amran dan Senyur, tertangkap tanpa sengaja dalam razia gabungan TNI-Polri, di depan Pos Polisi Sarjo, Mamuju Utara, sekitar pukul 05.15 Wita, Kamis (11/12/2014) dini hari, atau sekitar tiga jam usai beraksi, sekitar pukul 02.20 Wita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-perampok_20141203_20141203_151304.jpg)