Sadriansyah Pemerkosa dan Bunuh 4 Bayi: Hukum Saya Seberat-beratnya
Kepada penyidik, Sadriansyah mengaku tega membunuh empat bayinya sendiri karena trauma masa kecil yang sering dianiaya keluarganya saat menangis.
Laporan wartawan KOMPAS.com Kontributor Samarinda, Gusti Nara
TRIBUNNEWS.COM, SAMARINDA - Sadriansyah pelaku pemerkosa dan pembunuh empat bayi kandungnya sendiri, kini ditahan di ruang tahanan Mapolresta Samarinda, Kalimantan Timur.
Dia dipindahkan dari Mapolsekta Sungai Kunjang untuk kemudahan penyidikan.
Kepada penyidik, Sadriansyah mengaku tega membunuh empat bayinya sendiri karena trauma masa kecil yang sering dianiaya keluarganya saat menangis.
Dia mengakui kini sering kesal mendengar suara tangisan bayi.
Karena kesal itulah dia berupaya mendiamkan tangisan bayi dengan cara yang tak wajar.
“Karena saya ingat masa lalu, waktu kecil saya mau dibunuh sama saudara-saudara saya. Saya ndak punya orang tua, bapak-mama meninggal. Selagi kecil saya dibuang, jadi itu alasan saya membunuh,” kata Sadriansyah (21/5/2015).
Sadriansyah kini mengaku khilaf dan bersedia dihukum seberat-beratnya.
“Saya khilaf, saya ikhlas dihukum seberat-beratnya. Ditembak mati pun saya rela,” sebutnya.
Sadriansyah adalah pelaku pemerkosa anak kandungnya sendiri.
Tak tahan dengan perilaku orang tuanya, korban yang baru berusia 15 tahun itu akhirnya melapor ke polisi.
Setelah penyidik meminta keterangan ibu korban, akhirnya terungkap jika Sadriansyah juga membunuh empat bayinya yang berusia antara satu hingga tujuh bulan.
Sebelumnya, Tim Penyidik dari Kepolisian Polresta Samarinda dibantu dokter forensik dari Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie membongkar sebuah makam bayi bernama Syahrul, di TPU Jalan Padat Karya, Loabakung, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), Kamis siang (21/5/2015).
Makam tersebut merupakan makam bayi yang dibunuh ayahnya sendiri, Sadriansyah.
Saat dibunuh oleh Sadriansyah, Syahrul masih berusia empat bulan pada tahun 2008 silam.