Kisah Mbah Simpen 87 Tahun yang Pilih Hidup di Hutan Jati Beratap Terpal
Usia Mbah Simpen telah 87 tahun. Suami dan dua anaknya telah meninggal dunia. Kini ia hidup bersama anak bungsunya bernama Urip.
TRIBUNNEWS.COM, TUBAN - Usia Mbah Simpen telah 87 tahun. Suami dan dua anaknya telah meninggal dunia. Kini ia hidup bersama anak bungsunya bernama Urip.
Mereka berdua mendiami kamar terbuat dari terpal warna biru di tengah hutan Jati Pakah Desa Gesing, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.
Tak ada tetangga maupun sanak famili lain di tempat tinggalnya itu.
Hidup di tengah hutan di bawah pepohonan jati tanpa aliran listrik, apalagi air bersih, sudah dijalani Mbah Simpen dan Urip hampir setahun ini.
Hujan deras mengguyur wilayah Kabupaten Tuban nyaris setiap hari tak membuat Mbah Simpen dan Urip mencari tempat lebih layak.
Di dalam kamar itu, Urip melapisi tanah dengan kayu papan dijajar hanya cukup untuk tidur berdua.
Ada satu unit kompor minyak tanah. Di luar kamar, Mbah Simpen memelihara empat ayam.
Ketika ditanya asal kelahirannya, Mbah Simpen sudah tak ingat secara jelas.
Ia mencoba mengingat-ingat lalu menyebut nama Plumpang tanpa disertai nama desanya. Plumpang adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Tuban.
Usianya yang renta membuatnya butuh bantuan tongkat untuk bisa berjalan.
Dulu, Mbah Simpen memiliki tiga anak, puluhan tahun yang lalu, dua anaknya meninggal pada usia 8 tahun dan 12 tahun.
Sedangkan suaminya meninggal akibat ditembak saat zaman penjajah Belanda.
“Sekarang setiap hari saya bersama anak bungsu saya, namanya Urip,” kata Mbah Simpen terbata-bata, Minggu (28/2/2016).
Untuk kebutuhan hidup sehari-hari, Mbah Simpen mengharapkan belas kasihan dari warga yang melintas di gubuk terpalnya.
Anaknya, Urip seringkali meninggalkannya untuk mencari barang rongsokan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/mbah-simpen_20160228_212753.jpg)